Laporan & Kunjungan Kasih

Kunjungan Ke Distrik Toba, Distrik Samosir, Distrik Labuhanbatu dan Distrik Tapanuli Selatan

LAPORAN KUNJUNGAN DAN PELAYANAN KASIH

BKS MARTURIA HKBP SE JABEDETEN

Ke Distrik Toba, Distrik Samosir, Distrik Labuhanbatu dan Distrik Tapanuli Selatan

Tanggal 25 Agustus – 01 September 2014

Pengantar

Terpujilah nama Allah kita di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Gereja, yang masih memberi kesempatan bagi Badan Kerjasama (BKS) Marturia HKBP Jabedeten memenuhi Amanat Agung-Nya untuk memberitakan Injil Keselamatan-Nya bagi banyak orang. Atas perkenan dan tuntunan Tuhan, tahun ini BKS dapat mengutus empat Tim mengadakan kunjungan dan pelayanan kasih ke empat distrik, yakni: Distrik Toba, Samosir, Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan. Tuhan menuntun perjalanan Tim mulai dari berangkat, selama kunjungan pelayanan hingga kembali ke rumah masing-masing, sehingga semuanya sehat dan penuh sukacita. Dengan mengandalkan kuasaNya Tim dapat memberitakan kebenaran Firman Tuhan, mengajak ruas menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus dan mengandalkan Yesus dalam hidupnya serta mau melepaskan diri dari kuasa-kuasa kegelapan.

Tim berangkat hari Senin, 25 Agustus dari bandara Sukarno-Hatta Jakarta. Rombongan yang menuju Toba, Samosir dan Labuhanbatu berangkat dengan pesawat yang sama pukul 07.00 WIB menuju Kualanamu, Medan, sementara Tim ke Tapanuli Selatan berangkat jam 10.00 dengan Garuda langsung ke Pinangsori. Di hari pertama, Senin 25 Agustus 2014, seluruh Tim sudah tiba di distrik pelayanan masing-masing dan mengadakan koordinasi dengan Praeses dan pendeta setempat.

BKS Marturia mengucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu Praeses, Pendeta Ressort, Pendeta Diperbantukan, Bibelvro, Diakones, para Sintua dan ruas yang menyambut Tim dengan sukacita dan entusias, memberi tumpangan tidur, memberikan kendaraan untuk digunakan Tim, memberi makan dan memberi banyak hal lain yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu. Tidak lupa, BKS menyampaikan terimakasih kepada Tim Doa BKS yang terus berdoa dan berpuasa mendukung kunjungan pelayanan ini, dan Tim merasakan kekuatan dari Tuhan sebagai buah dari doa-doa mereka. Terimakasih juga kami sampaikan kepada seluruh donator yang memberikan persembahan mereka mendukung kunjungan pelayanan kasih ini. Biarlah Tuhan sumber segala berkat memberikan balasan atas perbuatan baik mereka.

 

BEBERAPA POKOK PERHATIAN

Berikut kami paparkan beberapa hal yang kami cermati selama kunjungan ini yang perlu mendapat perhatian HKBP secara keseluruhan. Hal-hal yang nyata yang kami amati di masyarakat disebabkan oleh iman yang tidak bertumbuh atau marpengpeng atau “hapejeton ni haporseaon” yang ditandai dengan hal-hal berikut yang perlu mendapat perhatian HKBP secara keseluruhan:

  1. Okultisme masih tetap menjadi sorotan utama. Di semua daerah yang kami kunjungi, ternyata banyak sekali ruas HKBP yang terlibat dalam praktek okultisme.
  2. Banyak yang menjadi korban jasa perdukunan. Mereka menerima “panjaga ni daging” dari dukun ketika ada isu (entah siapa yang mengisukannya, kemungkinan besar adalah para datu) bahwa di daerah tsb ada pangarasun; paling laris bila ada isu bahwa di daearh tsb ada parbegu ganjang. Maka ramai-ramailah orang meminta panjaga ni daging. Larislah si dukun. Ini terjadi pasti karena gereja tidak mampu meyakinkan mereka bahwa kuasa Yesus telah menaklukkan segala kuasa mana pun di dunia ini.
  3. Karena sikap yang sangat pragmatis. Ketika ada orang yang kerasukan, mereka memanggil sintua atau pendeta, tetapi ternyata tidak melakukan apa-apa dan tidak mampu mengusir roh jahat tsb. Juga ketika mereka mengalami sakit-penyakit, tidak ada kuasa doa dari orang gereja. Sementara ketika mereka memanggil dukun, roh jahat segera pergi dan penyakit mereka sembuh. Mereka lebih percaya pada apa yang terlihat.
  4. Masih banyak ruas yang berobat ke dukun. Di beberapa daerah ditemukan bahwa mereka berobat ke dukun karena jarak yang sangat jauh ke Puskesmas atau rumah Sakit. Dan juga karena biaya berobat yang relatip cukup besar bila ke dokter, bidan atau jururawat padahal kemampuan keuangan mereka terbatas. Sementara berobat ke dukun cukup memberi sekedar atau bisa dengan hasil bumi.
  5. Para orangtua, sadar atau tanpa sadar turut melibatkan anak-anaknya ke pada praktek okultisme. Ketika si anak sakit, orangtuanya “mambursik”nya dengan ramuan yang diterimanya dari dukun. Juga memasangkan ke tubuh anak-anaknya ‘gelang’ atau benda lain yang diterimanya dari dukun. Sering orangtua mengajak anak-anaknya melakukan ritual penghormatan kepada roh orang meninggal di kuburan. Masih ada orangtua yang mengajak anaknya yang akan pergi merantau untuk menerima “jimat panjaga ni daging” dari dukun.
  6. Masih banyak biaya yang dihabiskan untuk membangun tugu orang mati. Dan ironis serta sering memilukan karena di samping tugu megah tsb masih banyak rumah “kumuh” keluarga pemilik tugu yang tidak layak dihuni. Masih kuat keyakinan bahwa membangun tugu nenekmoyang akan mendatangkan berkat dari roha-roh nenekmoyang tsb.
  7. Di atas pintu masuk rumah masih dijumpai ‘tanduk ni horbo” dari kerbau yang dipotong ketika keluarga tsb mengadakan pesta, dan keluarga tsb mengadakan ritual rutin menyembah tanduk ni horbo
  8. Di daerah transmigrasi dan perkebunan, banyak ruas yang meminta jimat kepada dukun ketika memulai pembukaan lahan untuk menanam kelapa sawit atau karet. Mereka masih memiliki keyakinan bahwa daerah bukaan itu memiliki “penjaga” sehingga mereka membutuhkan “penangkal”. Sementara itu, iman mereka kepada kuasa Tuhan Yesus masih sangat dangkal. Ketika itulah para dukun menawarkan “jimat penangkal” buatannya sendiri.
  9. Tetapi yang terutama adalah karena faktor ketidak-tahuan dan ketidak-sadaran. Kebanyakan ruas yang terilbat dalam okultisme ini tidak memahami bahwa praktek ini menyakiti dan mendukakan hati Tuhan. Mereka jarang membaca Firman Tuhan yang bertautan dengan okultisme dan hampir tidak pernah mendengar keterangan dari para parhalado tentang bahaya okultisme terhadap iman Kristen.
  10. Di samping hal di atas, dari pengamatan Tim, ada “kelompok” yang mulai berusaha menarik ruas HKBP (dan gereja lain yang berbasis Batak) untuk kembali kepada kepercayaan nenekmoyang kita atau agama Batak yang sangat animis. Tim mendapat fenomena ini ketika melayani keluarga yang oleh parhalado setempat disebut sebagai ruas yang sudah lama tidak lagi ke gereja. Ketika bertemu, mereka mengakui bahwa mereka sudah memuja roh nenek-moyang atau roh Sisingamangaraja, walau mereka masih tetap terdaftar sebagai ruas Mereka melakukan ritual pemujaan roh (animisme) itu dengan menggunakan peralatannya setiap hari di rumahnya. Walau masih ada anggota keluarga yang tidak setuju, kebanyakan anggota keluarga itu sudah kembali ke kepercayaan lama tsb. Dan sangat mengejutkan, ketika Tim menanyakan alasan mengapa mereka kembali ke sana, dengan tegas mereka menjawab, karena kekecewaan mereka terhadap gereja. Rupanya keluarga ini mengalami masalah besar: sakit, ekonomi terus melorot, persoalan demi persoalan bertubi-tubi. Ketika itulah, tidak ada kunjungan atau usaha penopangan iman dari pihak gereja. Bahkan menurut mereka, anggota jemaat lainnya justru ikut mencela mereka. Ketika itulah mereka didatangi orang (dari daerah lain) yang sudah meninggalkan kekristenannya dan sudah menjadi pemuja roh nenekmoyang, datang menjumpai dan melayani mereka, mengajak mereka melakukan ritual kepada roh-roh. Dan menurut mereka, ketika itu mereka memperoleh ketenangan. Sejak itulah mereka menjadi pemuja roh.
  11. Pemaparan yang disampaikan Tim tentang “Apa kata Firman Tuhan tentang Okultisme” berhasil mengalihkan sikap-sikap pragmatis tadi dan memberi kekuatan serta keyakinan bagi ruas tentang kuasa Tuhan Yesus yang telah mengalahkan kuasa maut, iblis dan dosa. Dan kuasa tsb telah diberikan kepada setiap orang percaya sesuai perkataan Tuhan Yesus di Markus 16, 17 – 18.

 

  1. Dari pengamatan Tim, ternyata sangat sedikit ruas HKBP yang mengetahui program Jaminan Kesehatan Nasional yang telah diberlakukan pemerintah beberapa tahun lalu, dan juga program Jamkesmas. Akibatnya banyak warga yang sakit tidak dapat berobat karena tidak memiliki uang berobat dan terpaksa menahan sakitnya di rumah tanpa pengobatan. Dari pengamatan Tim, pihak huria HKBP (Pendeta, atau pun Sintua) tidak pernah turut mensosialisasikan dan membantu ruas ni huria mengikuti program yang bermanfaat ini. Mereka beranggapan itu adalah tugas pemerintah. Sementara pihak pemerintah tidak pernah berusaha memasyarakatkannya.

 

  1. Pelayan yang berkomitmen dalam pelayanan. Tim mensyukuri ternyata masih banyak pendeta dan pelayan penuh waktu di HKBP yang berkomitmen tingi dalam pelayanan. Terbukti dari pendeta yang sangat rajin melayani ruasnya walau dengan huria pagaran yang sangat banyak (ada 6 – 8 huria) dengan menempuh jarak yang sangat jauh dengan medan yang cukup berbahaya. Walau di kondisi itu, Tim melihat pendeta tsb berusaha mengunjungi huria pagaran di luar hari minggu dan memotivasi masyarakat membuat perubahan ke arah hidup yang lebih baik. Namun ada juga pendeta yang mengeluh, bukan karena tidak berkomitmen, tetapi karena dia seorang perempuan ditempatkan di daerah sepertti itu, yang sebaiknya dilayani pendeta laki-laki. Dalam perkunjungan kali ini, kebanyakan pendeta dan pelayan penuh waktu membantu dan turut terlibat dalam pelayanan bersama Tim, membuat Tim mampu melakukan lebih banyak pelayanan lagi. Terutama para Praeses, walau di tengah kesibukan pelayanan, mereka sangat membantu dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik sehingga Tim semakin bersemangat melalukan pelayanan. Tetapi Tim juga sering menjadi tempat curhat (Keluhan) pelayan atas kesulitan yang mereka hadapi dalam pelayanan, karena jarak yang relatip jauh dengan Praeses yang seharusnya menjadi tempat curkat mereka.

 

  1. Tim kagum melihat beberapa pendeta yang turut berusaha mendorong dan memotivasi ruasnya mengembangkan bukan hanya iman percayanya kepada Yesus tetapi juga kesejahteraan jasmaninya. Mereka meminta agar pemerintah daerah membuatkan jalan, puskesmas, dll. Tim juga berjanji akan membantu satu ressort di tahun depan mendorong masyarakat setempat untuk menanam jagung bersama guna memanfaatkan lahan sehabis panen, sehingga dapat memberi penghasilan tambahan bagi masyarakat.

 

  1. Pemaparan Metode Penginjilan Melalui Persahabatan (Evangelism Explosion) disambut baik oleh ruas. Metode ini dianggap sangat membantu untuk menjabarkan dan memahami iman kristen dengan sangat sederhana dan sistematis. Dalam setiap pemaparan, warga sangat tekun menyimaknya.

 

  1. Demikian halnya dengan pelatihan EE kepada anak-anak atau EE Kids. Di setiap huria yang dilakukan pelatihan, Guru-guru mau pun anak-anak Sekolah Minggu sangat entusias, aktip dan penuh kegirangan menjalaninya sesuai dengan arahan pembina.

 

  1. Tentang Kunjungan Rumah Tangga atau Kunjungan Pastoral. Ternyata ruas sangat dan sangat membutuhkan kehadiran parhalado atau teman sahuria mengunjungi mereka, terutama ketika mereka mengalami pergumulan. Parhalado biasanya datang hanya ketika ada yang sakit atau meninggal. Padahal ruas sangat membutuhkan kehadiran parhalado ketika mereka mengalami pergumulan rohani, masalah rumah tangga, masalah ekonomi; ruas membutuhkan sahabat teman berbicara meluapkan uneg-uneg hatinya dan terutama membutuhkan topangan Firman Tuhan dan Doa. Tetapi, kebanyakan parhalado memahami bahwa itu hanyalah tugas pendeta bukan tugas mereka. Sementara para pendeta dan pelayan penuh waktu merasa tidak memiliki cukup waktu untuk itu karena tersita oleh tugas rutin di huria. Di samping itu, Tim melihat, di samping kurangnya pemahaman akan tugas pstoral tsb, parhalado juga kurang bahkan tidak memiliki keterampilan melakukannya karena mereka hampir tidak pernah dibina untuk itu.

 

APA YANG PERLU DILAKUKAN (TINDAK LANJUT)

  1. HKBP dengan seluruh kemampuan dan di semua aras harus memacu usaha pembekalan memperlengkapi semua ruas ni huria melawan kuasa kuasa kegelapan (okultisme). Diusulkan agar Pimpinan HKBP cq Departemen Marturia HKBP semakin gencar melanjutkan usaha pembekalan para pelayan penuh waktu tentang okultisme ini, dan mereka inilah yang “diutus” melakukan pembinaan bagi semua parhalado dan ruas. Di samping itu HKBP sangat perlu dan mendesak – melalui sebuah Tim ahli – menyusun sebuah buku kecil dan sederhana bersama video berisikan pokok-pokok pengajaran Alkitab menghadapi kuasa kegelapan, untuk dibagikan kepada seluruh ruas ni huria secara gratis. BKS Marturia Jabedeten dan huria-huria di Jabodetabek dan kota besar lainnya dapat dilibatkan membantu pewujudan program ini. Malah sangat perlu, bila HKBP mengutus 5 – 10 orang pendeta dan pelayan penuh waktu HKBP untuk dilatih agar mampu mengatasi masalah okultisme ini. Tentu bekerjasama dengan gereja dan lembaga gereja lain. Merekalah yang membina parhalado dan ruas sehingga pada akhirnya huria bebas dari praktek okultisme. BKS Marturia Jabedeten, berkoordinasi dengan Deprtemen Marturia HKBP akan membantu Distrik Samosir dan Tapanuli Selatan melakukan pelatihan ini, direncanakan di akhir Januari 2015 yad.
  2. HKBP perlu mendorong semua parhalado (Pendeta, Pelayan Penuh Waktu dan Sintua) melakukan tugas Konseling Pastoral bagi ruas ni huria. Bahkan HKBP perlu membina ruas ni huria yang berpotensi dan kompeten untuk turut dilibatkan dalam hal ini. Dimulai dengan usaha pembinaan (pembekalan) para pendeta dan pelayan penuh waktu – sekedar mengingatkan dan memotivasi. Di tingkat Distrik perlu dilakukan Kursus Keterampilan Pastoral Konseling bagi Sintua dan Ruas. Kemudian dibuatkan “surat edaran” dari Pusat ke semua huria mengingatkan dan mendorong huria untuk melakukannya.
  3. HKBP di semua aras perlu turut mensosialisasikan program Jaminan Kesehatan Nasional, yang sering disebut BPJS atau program pemerintah lainnya yang membantu ruas (terutama yang miskin) dan membantu mereka ruas agar turut serta dalam program tsb. Untuk hal-hal yang sangat kritis, misalnya yang sakit tetapi tidak memiliki uang membayar Iuran Bulanannya, yang paling kecil sebesar Rp. 25.500 sebulan, dapat dibayarkan huria atau sumbangan dari ruas di kota.
  4. Pelatihan Parhalado tentang Evangelism Explosion (EE) harus terus digenjot, sehingga dalam dua tahun ke depan semua parhalado sudah pernah ikut sedikitnya dalam pemaparan EE tsb. Dan tiga tahun ke depan semua punguan kategorial bahkan ruas ni huria sudah mendapat pembinaan tentang EE ini. Demikian juga dengan EE Kids. Untuk itu HKBP harus terus menambah jumlah pengajar hingga tingkat tertinggi, seperti yang dilakukan oleh BKS Marturia Jabedeten.
  5. Perlu dipikirkan usaha membantu ressort yang sangat banyak pagaran dengan wilayah luas tetapi tidak memilki dana untuk membiayai pelayan penuh waktu. Sangatlah baik bila Pimpinan HKBP atau Praeses mengorganisir dan melibatkan huria mau pun keluarga-keluarga ruas ni HKBP yang berkomitmen melalui Program Huria Mangurupi Huria guna menanggung biaya tambahan pelayan di ressort tsb. BKS Marturia berencana melakukan program tsb di beberapa ressort yang dikunjungi.

 

PENUTUP.

Terpujilah Tuhan Yesus, Raja Gereja yang mempercayakan tugas pelayanan dan pekabaran Injil ini kepada Tim BKS Marturia HKBP Jabedeten, dan menuntun serta membimbing seluruh rangkaian kunjungan dan pelayanan kasih ini sehingga berjalan dengan sangat baik. Biarlah kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus. Biarlah Dia juga berkenan menerima seluruh hasil kunjungan dan pelayanan kasih ini menjadi dupa yang harum di hadapanNya. Biarlah dengan kunjungan dan pelayanan kasih ini BKS Marturia HKBP Jabedetan dapat menjadi berkat bagi sesama dan bagi HKBP. Kita harus terus berdoa agar HKBP bersama dengan seluruh unit kerjanya dan bersama dengan BKS Marturia Jabedetan mampu menindak-lanjuti hasil kunjungan dan pelayanan kasih ini, sehingga HKBP semain bertumbuh di dalam iman, dan mampu menjadi berkat bagi dunia. Tuhan memberkati.

 

Jakarta, 30 Oktober 2014

Ketua BKS Marturia HKBP Jabedeten

 

 

St. Drs. Richad Panjaitan, SKM

Penginjilan ke Bona Pasogit dan Kalbar 2015

LAPORAN PELAYANAN

BADAN KERJASAMA MARTURIA (BKS MARTURIA) HKBP JABEDETEN

 Pelayanan Kunjungan Kasih ke Bona Pasogit

Distrik: Tapanuli Bagian Selatan, Samosir, Jambi dan Deboskab (Kalbar)

 3 – 10 Agustus 2015

 

BKS Marturia HKBP Jabedeten

 

Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah Bapa kita di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Gereja, yang memberikan kesempatan bagi Badan Kerjasama (BKS) Marturia HKBP Jabedeten memenuhi Amanat Agung untuk memberitakan Injil Keselamatan bagi huria dan jemaat yang dikunjungi. Atas perkenan Tuhan, BKS Marturia dapat mengutus empat Tim mengadakan kunjungan dan pelayanan kasih ke empat distrik, yakni: Distrik Tapanuli Bagian Selatan,  Samosir, Jambi dan Deboskab ( Kalimantan Barat). Allah memimpin perjalanan Tim mulai dari berangkat, selama kunjungan pelayanan hingga kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan sehat dan sukacita. Dengan mengandalkan kuasaNya Tim dapat memberitakan kebenaran Firman Tuhan, mengajak ruas menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus dan mengandalkan Yesus dalam hidupnya serta mau melepaskan diri dari kuasa-kuasa kegelapan.

Beberapa orang anggota Tim yang ke Distrik Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) berangkat hari Minggu, 2 Agustus 2015 karena mengikuti jadwal pesawat Garuda. Anggota Tim lainnya berangkat hari Senin, 3 Agustus 2015 dari bandara Sukarno-Hatta Jakarta. Sebagian menuju Pontianak (Dist Kalbar), ke Jambi, dan ke Medan. Tetapi rombongan yang akan menuju Tabagsel terpaksa menghinap di Medan karena cuaca buruk. Semua Tim langsung mengadakan koordinasi dengan Praeses dan pendeta setempat.

BKS Marturia Jabedeten mengucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu Praeses, Pendeta Ressort, Pendeta Diperbantukan, Bibelvro, Diakones, para Sintua dan ruas yang menyambut Tim dengan sukacita dan antusias, memberi tumpangan tidur, memberikan kendaraan untuk digunakan Tim, memberi makan dan memberi banyak hal lain yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu. Tidak lupa, BKS menyampaikan terimakasih kepada Tim Doa BKS yang terus berdoa dan berpuasa mendukung kunjungan pelayanan ini, dan Tim merasakan kekuatan dari Tuhan sebagai buah dari doa-doa mereka. Terimakasih juga kami sampaikan kepada seluruh donator yang memberikan persembahan mereka mendukung kunjungan pelayanan kasih ini. Biarlah Tuhan sumber segala berkat memberikan balasan atas perbuatan baik mereka.

Beberapa Catatan dan Kesan dalam kunjungan:

  1. Pada kunjungan pelayanan ini, Tim memberitakan Firman Tuhan melalui beberapa cara:
  2. Dengan pembinaan bagi Parhalado, ruas Ama, Ina, Naposo, dan kepada anak-anak sekolah (SLTP dan SLTA). Materi yang disampaikan adalah:
  • Pemaparan Pekabaran Injil Pribadi dengan Metode Penginjilan Melalui Persahabatan, yang sering disebut Evangelism Explosion. Materi ini dianggap sangat berguna untuk: pertama, mengajak semua peserta agar menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya pribadi serta mengandalkan tuhan Yesus dalam seluruh hidupnya; dan kedua, dengan pemaparan ini peserta memiliki cara yang sangat sederhana untuk memberitakan Firman Tuhan sehingga peserta tertarik untuk memperdalamnya dengan mengikuti pelatihan lanjutan.
  • Materi yang sangat diminati adalah pemaparan dan pelatihan tentang EE Kids bagi anak-anak Sekolah Minggu. Bahan yang disajikan sangat menarik dan tidak membosankan bagi anak-anak. Di beberapa huria yang dikunjungi bahkan anak-anak tsb mampu memperagakan metode penginjilan anak ini di kebaktian minggu.
  • Hal serupa juga dipaparkan kepada anak-anak sekolah SLTP dan SLTA, yang mengajak mereka menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamatnya, mengandalkanNya, serta hidup seturut dengan kehendak Tuhan Yesus.
  • Pemaparan tentang Praktek, Bahaya dan Penanggulangan Okultisme. Tidak dapat disangkal, masih banyak ruas HKBP yang masih terlibat dalam praktek okultisme, dan ada kecenderungan akan semakin meningkat. Padahal, praktek inilah salah satu hal yang sangat dibenci bahkan menjijikkan bagi Tuhan.
  • Pemaparan tentang “Mara Bolon”, yaitu pemaparan tentang beberapa hal yang bisa menjadi bahaya besar bagi pertumbuhan iman ruas HKBP bila tidak segera ditanggulangi. Bahaya tsb, al: bahaya narkoba yang semakin meresahkan bahkan sudah menjadi darurat nasional. Narkoba ini biasanya membawa penyakit membahayakan, yaitu penyakit HIV/Aids, yang jumlah pengidapnya semakin banyak di bonapasogit (terutama disampaikan kepada para pelajar, remaja, naposobulung dan Guru Sekolah Minggu); kemudian bahaya penjualan tanah adat kepada pihak lain, yang bisa ditunggangi oleh masuknya penganut agama lain ke wilayah tanah Batak yang bukan hanya bisa meningkatkan anak-anak HKBP pindah agama, tetapi juga bisa membuat penguasaan tanah dan alat produksi oleh mereka sehingga orang Batak menjadi “budak” di hutana Juga bahaya kemalasan, di mana semakin banyak bapa-bapa yang menghabiskan waktunya di lapolapo, main judi, minum miras, tidak bekerja, tidak ke gereja, membuat pertengkaran bukan hanya di keluarga tetapi juga di masyarakat. Bahaya lain adalah adanya kecenderungan meningkatnya jumah ruas HKBP yang terlibat dalam praktek okultisme bahkan menjadi dukun. Juga bahaya ancaman perpecahan yang sering marak pada masa-masa pemilihan, baik di tingkat desa, kabupaten atau provinsi.
  • Pemaparan tentang Program Boan Mulak, salah satu program yang ditawarkan BKS Marturia guna membawa atau mengaktipkan kembali ruas HKBP yang sudah lama tidak aktip ke kebaktian minggu dan aktifitas gereja lainnya. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa jumlah yang tidak aktip ini sudah lebih 30 % ruas HKBP.
  • Sehubungan dengan Tahun Perempuan, Tim juga membina keluarga dalam pemaparan tentang: “Keluarga Menghadapi Era Globalisasi”.
  • Guna mempermudah pemaparan ini Tim membawa buku-buku cetakan yang bisa dibawa peserta untuk dipelajari lagi di rumahnya. Bahan-bahan berupa slide atau power point dibagikan kepada para Pelayan Penuh Waktu untuk digunakan membina ruasnya. Di samping itu Tim juga membagikan Buku Renungan Harian “Marturia” dan buku-buku lain.
  1. Yang paling diminati dan disyukuri baik oleh Tim, terutama oleh ruas adalah perkunjungan pastoral dan pelayanan pribadi kepada ruas ni huria. Kebanyakan mereka adalah yang sedang sakit. Sebagian lagi adalah mereka yang memiliki pergumulan atau masalah serius. Tetapi tidak sedikit melayani mereka yang terlibat dalam praktek okultisme. Tim membantu mereka dengan siraman Firman Tuhan agar mereka tetap percaya dan berharap kesembuhan, pertolongan, jalan keluar serta pemulihan dari Tuhan Yesus yang mampu melakukan mujizat dalam hidup mereka. Yang terlibat dalam praktek okultisme dituntun dalam Firman Tuhan untuk menyesali dan mau melepaskan diri atau menyangkali kuasa itu, serta menyerahkan hidupnya hanya ke tangan Tuhan Yesus. Hampir semua yang dilayani mengalami pemulihan, keteguhan dan sukacita yang melimpah. Saking banyaknya ruas yang membutuhkan pelayanan ini, Tim merasa kekurangan waktu untuk melakukannya. Baik ruas mau pun pelayan penuh waktu meminta agar di perkunjungan Tim berikutnya lebih banyak pada perkunjungan pastoral ini. Karena itu BKS Marturia Jabedeten berharap, Pimpinan HKBP kembali mengingatkan setiap huria agar pelayan-pelayan di huria meningkatkan program perkunjungan pastoral ini karena ruas sangat membutuhkannya. Para pelayan perlu dilatih atau di up-grade untuk me-refresh keterampilan mereka dalam pelayanan melalui kunjungan pastoral ini.
  2. Tim sangat mendukung program usaha pembinaan yang dilakukan Pimpinan HKBP cq. Kepala Departemen Marturia kepada pelayan dan ruas tentang Praktek, Bahaya dan Penanggulangan Okultisme. Lokakarya penanggulangan okultisme seperti yang dilakukan di Distrik Samosir perlu dilakukan di seluruh Distrik HKBP. Tim sangat mendukung penetapan misi oleh Kepala Departemen Marturia tentang Samosir, di mana akan dilakukan usaha besar-besaran agar Distrik Samosir bebas dari praktek okultisme dalam dua tahun ke depan. Hal serupa perlu dilakukan di Distrik HKBP lainnya. BKS Marturia HKBP Jabedeten bersedia membantu.
  3. Dari hasil perkunjungan ini Tim melihat bahwa pelatihan tentang EE perlu terus dilakukan bahkan ditingkatkan di seluruh Distrik HKBP. Tujuannya agar semakin banyak orang yang memiliki kepastian keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dan agar mereka semakin terdorong memberitakan Injil Keselamatan kepada orang lain. HKBP perlu mengirim pelayan penuh waktu ke pelatihan yang lebih tinggi sehingga mampu menjadi pelatih. HKBP perlu menghimpun semua alumni EE di seluruh distrik dan menggerakkan mereka melalui Praeses dan Peneta Ressort untuk berangkat melakukan penginjilan di daerah masing-masing.
  4. Dalam pelayanan pastoral tsb, Tim melihat kecenderungan meningkatnya angka perceraian di kalangan ruas HKBP, terutama keluarga yang masih muda. Ada beberapa yang sudah bercerai di pengadilan negeri; ada yang masih padaodao. Dari hasil pengamatan sementara, beberapa faktor penyebabnya, al: rendahnya pemahaman tentang dasar dan arti pernikahan secara Kristen. Hal ini mungkin disebabkan tidak adanya atau minimnya konseling pranikah. Faktor lain, adalah rapuhnya iman mereka, sehingga kemauan untuk terus berjuang mempertahankan keutuhan keluarga sangat rendah. Tidak sedikit yang mengambil jalan pintas atau jalan mudah dengan bercerai tanpa memperdulikan janji pernikahan mereka. Tetapi faktor lain, dan sangat dominan, adalah campur tangan pihak orangtua dan keluarga yang terlalu besar terhadap anak-anaknya. Dan celakanya, anak-anak itu (yang telah menjadi suami atau isteri) lebih cenderung berpihak kepada orangtuyanya ketimbang menyelsaikan masalah rumahtangganya bersama pasangannya. Tim melihat perlu digalakkan dan ditetapkan standar konseling pranikah yang ketat dan komprehensip, guna mempersiapkan setiap calon pengantin memasuki rumahtangga.
  5. Tim juga melihat beberapa kondisi keluarga yang memprihatinkan. Dari segi keuangan, mereka sangat mampu bahkan tergolong mewah. Namun, keluarga berantakan, jarang ke gereja, suami-isteri kurang harmonis, anak-anaknya bandel, suasana jauh dari sukacita. Masing-masing anggota keluarga mengambil jalan sendiri menggunakan uang yang melimpah. Tim melihat perlunya HKBP membuat program membina keluarga terutama dalam menggunakan uang dan hartanya untuk membangun kebahagiaan keluarganya.
  6. Tim juga menjumpai beberapa warga yang sangat kuatir akan hidupnya. Mereka takut tidak mampu membiayai hidup dan sekolah anak-anak serta keluarganya ke depan, padahal sebenarnya mereka memiliki penghasilan yang relatip cukup. Mereka perlu pemahaman yang benar tentang berkat dari Tuhan yang adalah Gembala Agung, yang menjamin kehidupan umatNya, tetapi juga tentang hidup yang aman di dalam Tuhan dan hidup dengan rasa cukup.
  7. Tim melihat bahwa daerah sekitar Jambi dan Kalimantan Barat merupakan ladang penginjilan yang sedang terbuka untuk dikerjakan. Masih banyak orang Batak dan suku lain yang sudah beragama Kristen yang membuka lahan pertanian tetapi belum terdaftar dan belum terlayani oleh gereja. Di sana juga ada beberapa perusahaan perkebunan yang cukup besar di mana banyak orang Batak Kristen bekerja tetapi belum terdaftar menjadi anggota gereja. Seorang Sintua di sebuah pos pelayanan menanyakan kami bagaimana caranya menginjili agar mereka bisa menghimpun orang Batak yang tersebar di daerah mareka yang jumlah relatip banyak. Mereka ini sangat perlu dilayani sedini mungkin, agar mereka tidak sempat pergi ke agama lain, dan agar mereka tetap berjalan di jalan Tuhan. Padahal tenaga pelayanan sangat terbatas; sementara jarak sangat jauh, harus ditempuh berjam-jam. Dan mereka belum memiliki dana untuk membelanjai pelayan penuh waktu. Alangkah indahnya bila ada pihak yang bisa membantu mereka mendatangkan pelayan penuh waktu, yang masih berusia muda dan berkomitmen untuk melayani di sana. Satu orang pelayan bisa melayani 3 (tiga) pos pelayanan sekaligus. Dengan belanja pelayan tsb sekitar Rp. 1.500.000,- per bulan. Jemaat pos pelayanan bersedia mendirikan rumah bagi pelayan tsb. Hanya, air harus dibor dari tanah sementara listrik harus dengan genset. Untuk transportasi dibutuhkan sepeda motor. Tim membuat prakiraan kebutuhan dana untuk tahun pertama sekitar 40 juta, dan tahun berikutnya sekitar Rp. 25 juta setahun. Andaikata beberapa resort yang memiliki berkat yang lebih banyak, seperti huria di Jakarta dan kota besar lainnya bersedia membantu mereka, atau beberapa ressort di Jakarta. Dan, pos-pos pelayanan ini bisa menjadi tempat praktek atau lapangan pelayanan dari peserta Sekolah Evangelis Jabedeten yang sedang berlangsung.
  8. Tim merasakan keramah-tamahan yang luar biasa baik dari pelayan, parhalado dan ruas, dengan wajah yang tetap tersenyum, keramahan menyambut di rumahnya dan juga jamuan-jamuan makan pagi, siang dan malam secara bergantian oleh ruas baik di penginapan mau pun di restoran. Interaksi dalam pelayanan dengan mereka sangat hangat.
  9. Laporan dari masing-masing Tim dilampirkan bersama Laporan ini.

 

Penutup

Program pelayanan cukup padat tetapi dapat berjalan lancar berkat campur-tangan Tuhan Yesus yang mengutus Tim, dan juga karena koordinasi yang sangat baik dengan Praeses, Pendeta Resort, Uluan Huria, dan pelayan lainnya. Biarlah pelayanan yang sangat sedikit dan sederhana ini diberkati oleh Tuhan Yesus Raja Gereja untuk memperluas KerajaanNya. Biarlah benih itu bertumbuh dan berbuah lebat untuk Kemuliaan Allah Bapa di Sorga. Dan hanya bagi Dia lah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amen

 

Jakarta, September 2015

Ketua Tim

Pdt Marisi Simanjuntak, M.Min