Minggu Keduabelas Setelah Trinitatis

PEMERINTAH ADALAH HAMBA ALLAH

Ep.   Roma 13:1-7

  Nats ini mengajar kita tentang sikap terhadap pemerintah. Ayat 1 berkata: “Setiap orang haruslah taat kepada pemerintah”. Artinya, kita harus hormat terhadap pemerintah yang sah dan berwibawa. Dan orang Kristen harus menjadi warganegara yang baik. Orang Kristen memiliki dua kewarganegaraan: warga negara Kerajaan Allah dan warga negara dari negaranya sendiri. Karena itu kita harus memenuhi kewajiban kita sebagai warga negara yang sekaligus sebagai buah dari kewarga-negaraan kita di kerajaan Allah.

Mengapa kita harus menghormati pemerintah? Ayat 1b mengatakan: “Sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”. Berurusan dengan pemerintah, kita bukan hanya sekedar berurusan dengan manusia yang memerintah, tetapi secara tidak langsung berhubungan dengan Tuhan sendiri. 1 Petrus 2:13 mengatakan bahwa hormat terhadap pemerintah adalah karena Allah, bukan karena takut kepada mereka. Tuhanlah yang memberikan mereka kuasa dan bertugas untuk membagi-bagikan berkat Allah secara merata untuk kesejahteraan kita. Sehingga tercipta ketenteraman umum. Untuk itulah mereka mengum-pulkan pajak dari kita untuk mereka gunakan meningkatkan kesejah-teraan seluruh masyarakat secara merata.

Karena itu setiap orang yang diberi kesempatan menja;ankan pemerintahan harus menyadari hal tersebut sepenuhnya sehingga mereka harus tetap memerintah di dalam takut akan Tuhan. Tetapi bagaimana bila pemerintah bertindak lalim atau kejam? Kita harus tetap hormat, tetapi harus kritis dengan mendahulukan kasih. Namun, ketaatan kita tertinggi tetap kepada Allah: Kita harus lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia (Kisah Rasul 5:29b).

Doa  :    Ya Tuhan, berikan kami pemerintah yang selalu takut akan Tuhan sehingga negara kami sejahtera, adil, makmur dan damai. Amin. (STPS)

PEMERINTAH YANG BERHIKMAT

Ev.   Amsal 8:12-21

  Kita sering kecewa melihat pemerintah yang mementingkan diri sendiri dan tidak mensejahterakan rakyatnya. Mereka memerintah tidak seperti yang dijanjikan pada masa kampanye. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Karena mereka tidak berhikmat.

Dari mana datangnya hikmat? Datang hanya dari takut akan Tuhan. Hikmat itulah yang sudah menjadi daging di dalam Tuhan Yesus Kristus. Siapa yang mengimani dan mengandalkan Tuhan Yesus dalam seluruh hidupnya, dia menjadi orang berhikmat. Nats ini mengatakan bahwa bila kita berhikmat maka kita juga akan memperoleh kecerdasan, yaitu kemampuan menyelesaikan masalah yang pelik. Juga memperoleh pengetahuan sehingga mampu memahami dan menyelesaikan banyak hal. Dengan hikmat kita menjadi bijaksana, seperti Salomo yang bijak-sana menyelesaikan masalah kedua perempuan yang bertikai dengan cepat, baik dan benar. Orang yang berhikmat akan menjadi dinamis, inovatif, mampu berkarya mensejahterakan dirinya dan orang lain.

Orang berhikmat akan membenci hal yang tidak disukai Tuhan seperti kejahatan, karena takut akan keadilan Tuhan. Orang berhikmat jijik terhadap kesombongan, tetapi selalu rendah hati seperti Tuhan Yesus (Fil. 2:5-17). Dia jauh dari tingkah laku yang jahat karena tahu membedakan yang baik dan yang jahat. Dia jijik akan mulut penuh tipu daya, berita hoax, bermuka dua atau sikap yang munafik. Hatinya selalu tulus. Itulah perlunya para pemimpin memiliki hikmat dari Tuhan Yesus. Mereka akan menyadari bahwa kuasa yang ada padanya adalah berasal dari Allah, yang harus digunakan hanya untuk memenuhi keinginan Allah. Pemerintah yang berhikmat seperti itu pasti akan menggunakan segala potensinya untuk mensejahterakan rakyatnya.

Doa  :    Ya Tuhan, berikan hikmatMu bagi pemerintah kami, agar mereka memerintah di dalam takut akan Tuhan, sehingga meraka hanya ingin memuliakan Engkau dan mensejah-terakan rakyatnya. Amin. (STPS)