Minggu Ketiga Setelah Ephipanias

JADILAH MURID YANG MEMBERITAKAN INJIL

Ep. Matius 4:12-22

Setelah Yesus memenangkan pencobaan dari si iblis, Yesus mulai mengajar. Tetapi setelah Yesus mendengar Yohanes Pembaptis sudah ditangkap oleh Herodes Antipas, Yesus menyingkir ke Galilea. Bukan karena takut. Tetapi karena belum waktuNya. Yesus harus mati di kayu salib di Golgota untuk menanggung dosa dunia, bukan mati di tangan Herodes. Kita pun harus berhikmat. Mati karena Injil itu sangatlah baik, tetapi jangan mati dengan sia-sia. Lalu Yesus berangkat ke Galilea. Mengapa? Karena Galilea lebih terbuka untuk ide-ide yang baru. Di tempat seperti itulah Yesus memulai pelayananNya. Strategi ini patut kita tiru: Mulailah pelayanan, usaha atau bisnismu dari hal yang mudah dan realistis, yang Saudara sukai dan kuasai, yang bisa berbuah. Jangan mulai dengan menabur di atas batu, tetapi mulailah dengan menabur di tanah yang subur. Kepergian Yesus ke Galilea sekaligus merupakan pewujudan Firman Tuhan di Yesaya 8, 23 – 9, 1. Di Galilea banyak pendatang, yang masih hidup dalam kegelapan. Dan Yesus akan membawa terang kebenaran kepada mereka. Yesus menyerukan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! Itulah juga menjadi tugas kita. Marilah kita menjadi alat di tangan Yesus membawa Terang Injil kepada orang yang masih dalam kegelapan, yang belum mengenal Tuhan Yesus. Ajaklah mereka supaya bertobat dan menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamatnya, supaya mereka selamat. Untuk meneruskan misiNya itu, Yesus memilih murid-muridNya, yang dipersiapkanNya selama Dia hidup hingga kenaikan-Nya ke surga. Nanti, para murid inilah yang akan menjadi suara Yesus memanggil seluruh dunia untuk bertobat dan menerima keselamatan yang telah disediakan Yesus. Sekarang, mari tanyalah dirimu, apakah Saudara sudah melakukan tugasmu sebagai murid Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain?

Doa : Tuhan, ajar dan kuatkan kami menjadi muridMu yang setia memberitakan InjilMu. Amin. (STPS)

TENANG DI TANGAN TUHAN

Ev. Mazmur 27:1-6

Seorang raja mengadakan sayembara tentang kedamaian. Akhirnya ada dua lukisan yang disukai raja. Lukisan pertama menggambarkan danau yang begitu tenang dengan langit biru dan awan putih. Sungguh damai. Lukisan kedua menggam-barkan pegunungan yang tampak kasar dan gundul. Di atasnya langit gelap dan merah menandakan akan turun hujan badai serta kilat yang menyambar. Sama sekali tidak mencerminkan kedamaian. Namun, sang raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun, ada semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak itu nampak seekor induk burung pipit yang sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai. Di luar dugaan, raja memilih lukisan kedua. Apa alasannya? “Kedamaian bukan berarti tidak ada masalah, kesulitan, kesedihan dan derita. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai meskipun Anda berada di tengah keributan luar biasa”. Demikian dengan pemazmur, Daud. Dia mengalami penderitaan yang luar biasa, karena dia difitnah. Namun dia tetap tenang. Mari kita baca di ayat 3, dia percaya, berharap, aman, tenang, tenteram sedikit pun tidak gelisah atau takut. Bagaimana dia bisa tetap tenang di tengah badai derita dan pergumulan? Karena dia mengenal Allah dengan sangat jelas. Di Ayat 1, dia mengenal bahwa Allah adalah terangnya, keselamatannya, benteng hidupnya, Allah yang mahakuasa, yang dapat melakukan segala cara untuk menyelamatkannya. Kitapun haruslah demikian. Terutama kita yang sudah mengenal dan mengimani Tuhan Yesus yang telah mengalahkan maut dan memberi kita keselamatan, itu akan membuat kita mampu mengatakan: terhadap siapakah aku takut, aku gemetar? Aku akan tetap tenang walau di tengah derita.

Doa : Ya Tuhan, aku tetap tenang di tengah penderitaan karena aku mengenal dan mempercayaiMu. Amin. (STPS)