Minggu Kedua Setelah Ephipanias

TAAT SEBAGAI UCAPAN SYUKUR

Ep. Mazmur 40:1-11

Pemazmur mengalami malapetaka yang tak terbilang, lebih dari jumlah rambutnya (ay. 13), hingga merasa sudah di lobang kebinasaan dan lumpur rawa (ay. 3). Tetapi, dia datang berteriak minta tolong hanya kepada Tuhan, karena hanya kepada Tuhan dia berharap. Kita juga haruslah seperti itu. Jangan pernah membiarkan dirimu dikubur oleh malapetaka yang menimpamu. Tetapi tetaplah berharap dan berseru kepadaNya. Tuhan akan segera menolongmu. Tuhan melepaskan Daud dari malapetaka itu dengan banyak keajaiban, hingga dia tidak bisa menghitungnya. Karena itulah Allah kita, Allah yang tiada bandingannya, segala hal dapat dilakukanNya. Kita pasti akan semakin kagum oleh perbuatanNya. Lalu, si pemazmur ingin mempersembahkan ucapan syukur-nya. Tetapi bagaimana caranya? Dia mau mempersembahkan kurban seperti biasanya dilakukan banyak orang. Tetapi, Tuhan tidak membutuhkan itu, karena apa yang kita persembahkan adalah dari Dia. Lalu, apa persembahan yang paling disukai Allah sebagai ucapan syukur? Pertama, adalah ketaatan kita melakukan semua yang dikehendaki Allah (ay. 9), sama seperti Tuhan Yesus yang taat setaattaatNya hingga memberikan NyawaNya untuk melakukan kehendak Allah. Awas, jangan seperti Saul, yang lebih mengutamakan membe-rikan persembahan kurban ketimbang menaati perintah Tuhan. Hasilnya, dia dilengserkan Tuhan sebagai raja. Menaati perintah Allah itulah persembahan harum di hadapan Tuhan. Kedua, dengan membe-ritakan dan memasyhurkan semua yang diperbuat Allah bagi kita. Terutama kasih Yesus yang mau mati untuk keselamatan kita. Untuk apa? Supaya semua tahu bahwa Allah lah yang melakukan semua. Kesaksian pribadi kita tentang perbuatan Allah dalam hidup kita, itu bisa menjadi jembatan bagi Tuhan Yesus memasuki hidup orang lain.

Doa : Tuhan, ajar kami untuk menaatiMu dan memberitakan keagunganMu sebagai ucapan syukur kami atas semua perbuatanMu bagi kami. Amin. (STPS)

KASIH KARUNIA DAN DAMAI SEJAHTERA ALLAH

Ev. 1 Korintus 1:1-9

Di minggu kedua sesudah Epiphanias hari ini, Allah menyatakan diriNya sebagai Allah yang penuh kasih karunia (Ay. 4). Di dalam Tuhan Yesus, Allah menyediakan keselamatan bagi kita manusia berdosa, yang diberikan secara gratis. Keselamatan kita hanyalah karena anugerah Allah semata. Bukan karena perbuatan baik kita. Karena itu, sama seperti Paulus dalam suratnya ke jemaat Korintus ini kita haruslah mensyukuri kasih karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Oleh kasih karunia Allah pula, kita dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus di dalam Tuhan Yesus (Ay. 2) karena darahNya yang kudus telah menghapuskan dosa kita, dan mengu-duskan kita. Dan setelah itu kita dipersatukan dari segala tempat dalam gerejaNya yang kudus (Ay. 2). Setiap orang yang berseru dalan nama Tuhan Yesus telah menjadi satu sebagai Tubuh Kristus, bersaudara di dalam Tuhan Yesus. Karena itu, tidak baik ada pengkotak-kotakan atau perpecahan di dalam gereja Tuhan, seperti yang terjadi di jemaat Korintus. Perbedaan adalah anugerah Allah yang mengharuskan kita saling memberi, saling menerima dan saling terhubung satu sama lain, menjadi satu. Itulah cara kita menghargai kasih karunia itu. Dan, Allah juga memberikan kita damai sejahteraNya. Pengorbanan Yesus di kayu salib menjadi korban pendamaian sehingga kita diperdamaikan dengan Allah dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena itu, sebagai ucapan syukur kita atas damai sejahtera itu, kita juga haruslah hidup dalam damai sejahtera dengan sesama kita. Sebab itu, kita yang dibenarkan dalam iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus (Roma 5:1).

Doa : Ya Tuhan kami mensyukuri kasih karunia dan damai sejahteraMu. Biarlah kami tetap hidup di dalam damai sejahteraMu. Amin. (STPS)