PERCAYA PADA KUASA TUHAN YESUS

Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” (Markus 9:24)

Yun. 4:1-11                                 BE. 184:3                                Rm. 8:8-17

Pengalaman hidup kita, pemahaman yang kita miliki, prestasi yang kita capai terkadang membuat kita kurang peka.Terbiasa dengan kehidupan rutin keagamaan sering kali membuat kita menjadi tumpul, hanyut oleh karena rutinitas yang kosong, seolah paling kudus, sangat beriman. Para murid sebelumnya telah menerima kuasa untuk mengusir setan, tetapi mereka mengusir setan dari seorang anak akibat kerasukan setan, mereka gagal. Kenapa gagal?  Pernyataan Yesus menyiratkan bahwa mereka kurang beriman.

Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh ayah dari anak yang kerasukan ini. Ia menyatakan dengan jujur bahwa ia percaya kepada Yesus, dan sangat bergantung kepada Yesus dan menyerahkan ketidak-percayaannya. Ayah ini mengekspresikan dirinya dalam kesulitan besar. Berteriak dengan tetesan air mata minta tolong dalam percayanya. Ia berduka atas kelemahan imannya. Ia belajar dari Yesus yang memper-sembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan. Tuhan aku percaya, bantulah aku dari ketidak-percayaanku. Bantu kelemahan imanku. Inilah iman yang hidup, iman yang peka, iman yang jujur kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan kepada Tuhan.

Belajar dari kegagalan para murid, Yesus menjelaskan bahwa mereka kurang berdoa. Tampaknya mereka lebih mengandalkan kemampuan dirinya sehingga mereka tidak bergantung pada kuasa Allah. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana hubungan kita dengan Tuhan? Baiklah kita belajar dari seorang ayah yang percaya dan bergantung sepenuhnya terhadap pertolongan Kristus. Marilah dengan sungguh-sungguh percaya pada kuasa Tuhan Yesus.

Doa :   Ajar kami ya Tuhan untuk bergantung sepenuhnya hanya kepadaMu. Kuatkan iman kami supaya kami sungguh-sungguh percaya akan kuasaMu. Amin. (DSim)