IMAN DAN PERBUATAN SATU KESATUAN

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati
(Yakobus 2:17)

Mzm. 119:1-8                               BE. 2:3                               1 Yoh. 2:7-17

Ada dua unsur penting dalam iman. Seseorang dapat dikatakan memiliki iman bila ia percaya meski belum melihat bukti; dan orang beriman taat melakukan kehendak Tuhan, apa pun resikonya.  Jadi, iman juga harus disertai perbuatan atau tindakan nyata.  Bila tidak,“iman itu pada hakekatnya adalah mati”.

Jika kita berbicara mengenai iman, tetapi tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita percayai, hal itu adalah sia-sia.  Iman yang sejati bukanlah sekedar perkataan, namun harus diwujudkan ke dalam gaya hidup kita dengan perbuatan yang nyata.  Iman yang disertai dengan tindakan pasti membuahkan hasil. Contohnya adalah Rahab, perem-puan sundal dalam Alkitab. Ketika dua orang pengintai Israel datang ke Yerikho, Rahab melihat itu sebagai kesempatan emas dan ia menolong dua orang pengintai itu dengan menyembunyikan mereka. Sebelum para pengintai itu pergi, Rahab memohon agar ia dan seisi keluarganya diselamatkan bila mereka (orang Israel) menyerbu kota Yerikho.  Para pengintai itu pun setuju dan mereka membuat suatu kesepakatan. Para pengintai memerintahkan Rahab untuk mengikatkan tali kirmizi pada jendela rumah  (Yosua 2:21). Ketaatan Rahab mengaitkan tali kirmizi menunjukkan imannya pada perkataan para pengintai itu, menjadi pengharapan dan jaminan keselamatan bagi Rahab dan keluarganya.

Sebagai orang beriman, kita percaya telah menerima anugerah keselamatan dari pengorbanan Yesus Kristus. Sebagai buah dari iman kita itu, kita juga harus berbuat segala yang baik dan menjadi saluran berkat bagi orang lain, karena Tuhan telah pertama-tama memberikan kasih karunyaNya kepada kita. 

Doa :   Bapa kami yang di Surga kami bermohon kepadaMu mempukanlah kami melakukan perbuatan baik. Amin. (SSi).