Minggu, 17 November 2019

Minggu Keduapuluhdua Setelah Trinitatis

MENGASIHI SESAMA DENGAN TULUS

Ep.   Ulangan 24:19-22

  Bangsa Israel dilarang membuat saudaranya menderita, meskipun itu karena gadaian. Kalaupun mengambil gadaian, jangan mengambil barang yang menjadi mata pencaharian utama orang tersebut, karena itu sama saja seperti membunuhnya (Ayat 6). Jikalau datang ke rumahnya harus menunggu orang itu sendiri membawa barang gadaiannya. Jangan masuk apalagi menyita dari rumahnya. Bila saudaranya miskin, hingga menggadaikan pakaian yang dikenakannya, pakaian itu harus dikembalikan sore harinya (Ayat 10-13).

                Mereka harus terus mengingat kondisi mereka dahulu sebagai budak di Mesir. Mereka berada dalam tekanan bangsa asing. Oleh karena itu mereka tidak boleh menekan sesamanya apalagi menculik dan menjual saudaranya. Kejahatan seperti ini mendatangkan hukuman mati (Ayat 7). Sebagai bangsa Israel mereka harus berhati-hati dalam sikap dan perkataan terhadap sesamanya. Ingatan sebagai budak juga mewajibkan mereka untuk tidak memeras pekerja harian yang miskin. Mereka harus segera membayar upahnya pada hari itu juga. Mereka juga dilarang berbuat jahat terhadap orang asing, anak yatim dan janda; bahkan mereka juga diharuskan meninggalkan hasil ladang atau panennya bagi mereka itu.

Kita juga sebagai orang percaya sekarang ini diingatkan untuk tidak melupakan masa lalunya, yang menderita bukan hanya dalam hal fisik, tetapi juga terbelenggu dalam dosa. Posisi di zona nyaman yang kita alami saat ini dalam kasih karunia Tuhan, jadikanlah kesempatan untuk menyatakan kasih kepada sesama yang menderita jangan menekan apalagi menyiksa mereka. Cukupkanlah diri terhadap apa yang sudah dimiliki dan dengan tulus rela berbagi dengan orang lain. Inilah suatu kesempatan untuk memelihara dan mengangkat kehidupan saudara sesama kita yang berkekurangan.

Doa  :    Bapa sorgawi, ajar kami dengan tulus berbagi dan saling mengasihi sesama kami. Amin. (LasN)

BERSAMA TUHAN KITA

Ev.   Filipi 4:10-20

  Mungkin beberapa dari kita masih ingat ketika petinju Evander Holyfield akan bertarung melawan petinju ‘si leher beton’ Mike Tyson beberapa waktu silam. Dia memakai selempang yang bertuliskan Filipi 4:13. Evander sangat mengimani Firman yang tertulis dalam ayat itu untuk memberinya semangat dan rasa percaya diri melawan sang juara. Begitu juga dari balik penjara, Paulus bercerita kepada orang percaya di Filipi, katanya: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Ayat 13). Paulus dalam hidupnya banyak pengalaman, dan banyak perkara yang dihadapinya. Berbagai macam kesedihan dan kegembiraan, penderitaan dan kebahagiaan, pujian dan caci makian, perlindungan atau ancaman pembunuhan, dan perkara lainnya.

Namun semua perkara itu dihadapi Paulus tidak dengan keluhan atau putus asa, melainkan dengan kekuatan yang mengan-dalkan Tuhan. Karena bagi Paulus, Tuhanlah sumber kekuatan dan pengharapan. Memang, saat ia mengandalkan Tuhan, tidak semua perkara selesai seperti yang diharapkannya. Ketika harapannya tidak menjadi kenyataan, ia tetap dapat bersyukur karena dia yakin bahwa semua yang dialaminya diijinkan Tuhan untuk dijalaninya.

Kita juga harus meneladani Paulus, ketika kita mengalami pergumulan dan tantangan hidup, kita perlu mendapatkan semangat dan motivasi agar kita memiliki kekuatan menghadapi tantangan yang sedang kita hadapi. Itulah juga yang dilakukan Evander Holyfield dalam pertarungannya.  Ingatlah Filipi 4:13, bahwa semua, artinya, tidak satu pun, perkara yang tidak dapat kita tanggung bersama Kristus Tuhan kita. Andalkanlah Tuhan dalam hidup kita, pasti hidup akan berbeda, lebih bersukacita dan berpengharapan di saat pergumulan datang menyapa.

Doa  :     Terima kasih Tuhan, Engkau menguatkan dan mengajari kami selalu bersyukur dan mengandalkan Engkau dalam segala perkara. Amin. (LasN)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.