Minggu, 3 November 2019

Minggu Keduapuluh Setelah Trinitatis

KELUARGA YANG TAKUT AKAN TUHAN

Ep.   Kejadian 3:6-13

  Mengapa banyak keluarga yang berantakan atau bercerai? Itulah akibat dosa. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, keluarga pertama, Adam dan Hawa menjadi rusak. Hawa jatuh ke dalam dosa karena mengambil tindakan sendiri tanpa nasehat suaminya yang adalah kepala rumahtangganya. Dan setelah Hawa jatuh ke dalam dosa, dia menyeret suaminya agar ikut. Dan suaminya, Adam mau turut serta. Dan dia pun jatuh ke dalam dosa, sehingga semua keturunannya, termasuk kita, menjadi budak dosa. Walaupun ini tidak bisa menjadi alasan bahwa perempuanlah si pembawa dosa, sehingga kita harus melecehkan mereka. Oh, tidak! Karena Adam melakukannya dengan kesadarannya sendiri, artinya menyetujui dosa itu memasuki dirinya.

Setelah dosa itu memasuki diri Adam dan Hawa, hubungan mereka menjadi retak dan saling menyalahkan. Ketika Allah datang dan menanyakan, mengapa itu terjadi, mereka saling menuding. Kese-dagingan mereka menjadi hancur. Akibat dosa suami-istri seperti itu, keluarga terus mengalami banyak pergumulan dan penderitaan sampai sekarang ini, kita saksikan dan rasakan sendiri.

Dari Epistel hari ini kita dinasehati, agar isteri mau tunduk, bertanya dulu kepada suami sebelum mengambil keputusan. Dan suami, harus mau tunduk kepada Kristus. Dengan demikian, keluarga tetap berada di jalan Tuhan. Itulah keluarga yang takut dan selalu mengan-dalkan Tuhan. Untunglah Tuhan mau memberikan AnakNya Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan iblis itu. Bila keluarga mau percaya dan mengandalkan Tuhan Yesus, serta takut akan Tuhan, maka Tuhan Yesus akan memberikan saling mengampuni, saling membutuhkan dan saling mengasihi, sehingga keluarga dimungkin memperoleh keharmonisan dan kebahagiaan.

Doa  :    Ya Tuhan Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamat keluarga kami. Berikanlah keluarga kami keharmonisan dan kebahagiaan. Amin. (STPS)

KELUARGA YANG SALING MENGASIHI

Ev. Efesus 5:22-33

  Kalimat: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu”, ini sering digunakan orang untuk merendahkan status kaum perempuan, karena mereka hanya mengutip sepenggal saja. Padahal nats ini harus dipahami seutuhnya. Mulai Ayat 21 yang mengatakan: “rendah-kanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus”, dan Ayat 22 yang mengatakan: “seperti kepada Tuhan”. Artinya, sikap tunduk bukanlah yang terpaksa atau karena kedudukannya dianggap rendah. Tetapi ketaatan secara bebas dan sukarela, yaitu ketaatan hanya karena Tuhan. Seperti kita yang harus tunduk pada Tuhan (Ayat 24) yang mau merendahkan diri bahkan mati karena kasihNya kepada kita, seperti itulah juga para isteri tunduk kepada suaminya karena kasihnya.

                Dengan kata lain, tidak ada alasan bagi setiap suami untuk merendahkan isteri. Isteri yang tidak mau tunduk kepada Tuhan Yesus tidak akan pernah tunduk karena kasih kepada suaminya. Tetapi isteri yang tunduk akan Tuhan Yesus pasti secara sukarela akan tunduk pada suaminya. Demikian sebaliknya, suami yang tidak mau tunduk kepada Tuhan Yesus tidak berhak meminta isterinya tunduk kepadanya.

Dan selanjutnya, kepada suami, di Ayat 23 dikatakan bahwa suami adalah kepala isteri. Digunakan kata “kefale”. Di kata tersebut tidak ada unsur kuasa. Tetapi berarti: sumber. Sehingga kata itu dilanjutkan dengan: “Dialah yang menyelamatkan tubuh”. Seperti Kristus adalah sumber kehidupan kita, demikianlah para suami menjadi sumber dari hal yang membuat keluarga hidup, bahagia, aman, bersukacita, dan lain-lain. Bukan sebaliknya. Tetapi yang terutama, seorang suami harus meneladani Tuhan Yesus yang mau memberikan nyawaNya karena kasihNya bagi jemaat, demikianlah suami harus menjadi teladan dalam hal mengasihi bagi isteri dan keluarganya.

Doa:       Ya Tuhan Yesus, curahkanlah kasihMu ke tengah keluarga kami, agar semua keluarga saling mengasihi seperti Engkau mengasihi kami. Amin. (STPS)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.