Minggu, 13 Oktober 2019

Posted on

Minggu Ketujuhbelas Setelah Trinitatis

LAKUKAN PERINTAH TUHAN

Ep. Matius 21:28-32

Suatu ketika, Yesus berbicara dengan anggota-anggota Sanhedrin. Dia mengajar mereka dengan perumpamaan agar mudah dipahami. Dalam perumpamaan itu, Yesus bercerita tentang seorang bapak yang mempunyai dua anak laki-laki. Tentu mereka tahu, seorang anak harus menghormati bapaknya (Hukum ke-5). Anak itu harus melakukan perintah bapaknya (kecuali untuk berbuat dosa). Perintah itu untuk pergi bekerja di kebun anggur. Sikap kedua anaknya terhadap perintah itu berbeda. Anak pertama menyatakan ”ya” tetapi tidak berbuat (tidak melakukannya). Anak kedua menyatakan ”tidak” tetapi menyesal lalu pergi berbuat (melakukannya). Yesus bertanya, siapakah di antara kedua anak ini yang melakukan kehendak (perintah) bapaknya? Mereka menjawab, anak terakhir (anak kedua). Sebenarnya, sikap kedua anak itu tidak  sempurna. Yang sempurna bila mengatakan ”ya” dan pergi berbuat. Tetapi lebih baik berbuat daripada tidak berbuat. Bukankah angota-anggota Sanhedrin menyatakan mereka orang yang taat kepada Allah hanya diucapan saja, tetapi tidak berbuat (melakukan perintah Allah)? Mereka termasuk kelompok anak pertama. Bagaimana dengan orang berdosa (pemungut cukai dan pelacur)? Mereka tidak taat dalam ucapan, tetapi  mereka menyesal, bertobat dan berbuat seperti perintah Allah. Mereka termasuk kelompok anak kedua.

                Kita masuk kelompok mana? Apapun yang kita pilih, kita belumlah sempurna. Tetapi labih baik kita masuk kelompok anak kedua. Kita tidak atau kurang taat akan perintah Allah tetapi kemudian menyesal lalu berbuat. Memang yang terbaik adalah di kelompok khusus yang tidak masuk dalam perumpamaan itu, yaitu menyatakan ”ya” dan berbuat. Kita sebagai orang beriman seharusnya harus taat kepada perintah Allah.

Doa:  Tolonglah kami Tuhan, agar kami taat akan perintahMu bukan hanya diucapan, tetapi juga di perbuatan kami.  Amin. (WM)

KITA HARUS BERBUAT BAIK

Ev. Mazmur 25:8-15

Tuhan itu baik, bahkan Maha baik. Baik dan berbuat baik merupakan hakekat Tuhan, yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan setiap orang. Hukum Taurat dan Hukum Kasih merupakan cermin bagi orang percaya untuk mengukur kadar berbuat baik. Berbuat buruk (jahat) terjadi setelah manusia jatuh ke dalam dosa (keterpisahan dengan Allah). Apa buktinya Allah berbuat baik? 1) Dia menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat. 2) Dia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum. 3) Dia mengajarkan jalanNya kepada orang-orang yang rendah hati. 4) Dia mau mengampuni kesalahan orang walaupun kesalahan itu besar. Artinya,  Dia memberikan pengampunan dan perlindungan dengan kasih setiaNya kepada orang berdosa. Itu hanya  diberikan, bila orang itu takut akan Tuhan, menyesali dosa-dosanya, memohon pengampunan, dan bertobat. Dan muaranya, orang yang diberikan pertolongan dan perlindungan itu akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya mewarisi bumi. Dalam Perjanjian Baru, Yesus melakukan perbuatan baik sepanjang kehidupanNya. Misalnya, 1) Menyembuhkan orang sakit (Mat. 8:1-4, dan sebagainya). 2) Memberikan makan 5000 orang (Mat. 14:13-21). 3) Mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-10). Puncak perbuatan baikNya adalah, Dia memulihkan kembali keterpisahan manusia dengan Allah karena dosa. Ini dibuktikanNya dengan memberikan diriNya (self giving) dengan sukarela  (tidak terpaksa) dan sukacita di kayu salib untuk menebus dosa manusia (Mrk. 10:45).

                Kita harus meneladani Kristus dalam berbuat baik. Kita harus berbuat baik karena Yesus telah lebih dulu berbuat baik kepada kita (bnd. Mzm. 145:9). Tetapi kenyataannya berbuat baik merupakan hal yang langka pada  akhir-akhir ini. Walaupun langka, kita harus berusaha berbuat baik kepada semua orang.

Doa:       Tuhan kami yang baik. Tolonglah kami Tuhan agar kami dapat berbuat baik sepanjang kehidupan kami. Amin.    (WM)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *