Minggu, 6 Oktober 2019

Minggu Keenambelas Setelah Trinitatis

ARAHKAN HIDUPMU KEPADA KEKEKALAN

Ep. Pengkhotbah 3:1-14

Nats ini memberi kita beberapa hal tentang kehidupan. Pertama, semua ada musimnya. Tidak ada yang abadi. Dan semuanya itu ditentukan oleh Allah. Karena itu, ketika kita di musim “enak”, jangan terlena. Persiapkan diri untuk musim yang terburuk. Jadilah seperti semut (Amsal 6:6-11). Atau seperti Yusuf yang mempersiapkan diri di musim melimpah untuk musim serba kekurangan. Dan ingat juga, tidak ada musim yang menetap. Tidak ada derita yang menetap. Karena sesudah hujan akan datang pelangi. Karena itu, sabarlah menunggu musimmu dari Allah.

Kedua, kita juga diingatkan agar jangan pernah melandaskan hidup pada apa yang ada di bawah matahari. Karena semuanya akan berakhir. Mendasarkan hidup pada hal yang ada di bawah matahari, itu adalah usaha yang sia-sia, seperti menjaring angin.

Ketiga, karena itu Ayat 11 memberitahu ke mana arah hidup kita. Kita dicipta bukan untuk menetap di bawah matahari ini. Dunia ini hanya kemah yang akan dibongkar. Tetapi kita dicipta untuk kekekalan. Dan Tuhan menginginkan kita memasuki kekekalan di surga yang telah disediakan Tuhan Yesus bagi orang yang percaya kepadaNya.

Keempat, karena itu selama di dunia ini kita harus menyusun prioritas hidup agar kita tiba pada kekekalan tersebut. Prioritas itu adalah: Hiduplah di dalam iman kepada Tuhan Yesus.

Kelima, lalu apa yang harus kita lakukan selama hidup ini? Ay. 12-13 mengatakan, mari kita nikmati apa yang Tuhan berikan dalam hidup ini. Jangan hanya mencari, tetapi nikmatilah. Dan, “Takutlah akan Tuhan dan berpeganglah pada perintah-perintahNya” (Pengkotbah 12:13).

Doa:       Ya Tuhan, bantulah aku mengarahkan hidupku menuju kekekalan yang telah disediakan Yesus bagiku di surga. Amin. (STPS)

GEMBALA JEMAAT YANG BERDEDIKASI

Ev. Kisah Para Rasul 20:21-31

Nats ini merupakan kata perpisahan dan bimbingan Paulus dengan pemimpin jemaat Efesus di Miletus. Paulus menyerahkan tongkat kepemimpinan jemaat kepada mereka. Mereka harus menjadi pemimpin yang memiliki kualitas unggul. Paulus mengingatkan mereka bahwa setelah dia pergi, akan segera datang serigala yang ganas yang akan menerkam mereka (Ay. 29), baik dari luar maupun dari kalangan jemaat sendiri (Ay. 30), yaitu para guru-guru palsu yang akan menghancurkan iman jemaat. Untuk itulah para pemimpin jemaat Efesus diingatkan agar benar-benar mempersiapkan diri. Mereka harus meneladani Paulus yang mau mendedikasikan seluruh hidupnya untuk tugas utamanya, yaitu memberitakan Injil Keselamatan dari Tuhan Yesus, agar semua orang diselamatkan. Dia mau dipenjara, disiksa bahkan mati untuk tugas itu.

Dan dia melakukannya dengan kejujuran dan transparan (Ay. 18). Dia bersih dan dapat mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya (Ay. 26). Tidak pernah lalai atau surut walau hidupnya penuh derita dan ancaman (Ay. 27).  Seharusnya setiap orang Kristen melakukan hal yang sama, karena penginjilan adalah keharusan bagi kita (1 Korintus 9:16). Setiap orang Kristen terutama yang  menerima tugas terutama sebagai penginjil dan pemimpin juga harus memiliki karakter yang dimiliki Paulus tersebut, sehingga Injil bisa meluas.

Selanjutnya Paulus memberi arahan di Ayat 28 bahwa seorang pemimpin Kristen adalah orang yang dipilih oleh Roh Kudus. Tugasnya menjadi gembala (bukan tuan atau bos). Mereka harus menyadari bahwa domba yang digembalakannya adalah harta yang sangat berharga, yaitu orang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, Anak Allah. Karena itu, mereka harus melakukan tugasnya dengan baik seperti Paulus.

Doa:       Ya Tuhan, jadikan aku menjadi penginjil dan pemimpin yang berdedikasi, bertanggungjawab dan melayani domba-dombaMu. Amin. (STPS)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.