Minggu, 29 September 2019

Minggu Kelimabelas Setelah Trinitatis

KASIH SETIA TUHAN BAGI ORANG YANG TAAT

Ep.   Mazmur 40:7-11

  Perjalanan kehidupan mengarungi gelombang yang naik dan turun, senantiasa berubah, dan sering berada di luar batas kemampuan kita untuk memperkirakannya. Jalan yang harus kita tempuh tidaklah selalu mulus dan stabil. Ada kalanya langkah-langkah kita berjejak di atas batu yang kokoh, dan ada kalanya terperosok dalam rawa lumpur yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Realita kehidupan yang tidak stabil, berubah, dan bergerak di antara keyakinan dan kecemasan seperti inilah yang dialami Daud. 

Pemazmur melukiskan pengalaman hidupnya ketika ia jatuh ke dalam jerat dosa, dan menanti-nantikan Tuhan. Bagi pemazmur dosa seumpama lumpur hidup yang menghisap orang yang jatuh ke dalamnya untuk mati terbenam. Semakin keras orang itu meronta berusaha melepaskan diri, semakin ia akan tersedot oleh lumpur itu. Hanya jika ada pertolongan dari luar sajalah, orang itu dapat diselamatkan. Inilah penantian yang sekaligus menunjukkan bahwa usaha manusia sendiri jelas tak mampu menyelesaikan masalah dosa.

Kita belajar dari pemazmur, yaitu dengan tidak sekadar menaikkan kata-kata syukur dan pujian, atau dengan mempersem-bahkan kurban-kurban bakaran, melainkan dengan menundukkan diri dalam ketaatan kepada FirmanNya (Ayat 7-9). Kurban bakaran tidak berarti apa-apa kalau tidak disertai dengan hati yang tulus dan taat pada Tuhan. Kurban yang paling berkenan pada Tuhan adalah persembahan diri untuk Tuhan pakai sekehendak hati-Nya (9). Rasa syukur pemazmur juga dinyatakan kepada Tuhan dengan menyaksikan perbuatan Tuhan kepada umat Tuhan. Tujuannya agar umat Tuhan dikuatkan dan ikut mensyukuri kasih setia-Nya. Kita juga seperti pemazmur patut selalu bersyukur, taat, dengan tulus mempersembahkan diri memberitakan pertolongan dan karya besar Tuhan dalam hidup kita. 

Doa  :    Terima kasih Tuhan atas kasih setiaMu. Bimbing kami untuk selalu bersykur, taat dan memuliakanMu. Amin. (TS)

BERSATU DAN BERTUMBUH DALAM PELAYANAN

Ev.   Efesus 4:7-16

  Dalam bagian ini Paulus menunjukkan tiga bahaya yang mengancam persatuan Gereja: Perselisihan antara orang Kristen sendiri, pembagian tugas yang tidak jelas, dan penga-jaran sesat. Ketiga bahaya itu harus dilawan dengan asas persatuan di dalam Kristus. Dalam bagian ini Paulus menekankan bahwa panggilan Allah agar kita bersatu dalam pelayanan, tanpa membuat kita kehilangan jati diri, sesuai dengan talenta dan kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Kesatuan umat Allah tidak berarti bahwa semua orang Kristen menjadi seragam atau satu bentuk dalam segalanya.

Bukan kesatuan seperti itu yang dimaksudkan. Keragaman memperkaya bahkan memperindah kesatuan. Keragaman tanpa kesatuan akan mencipkakan kekacauan. Sebaliknya, kesatuan tanpa keragaman akan menakutkan. Keragaman umat Allah terlihat dari berbagai bentuk karunia. Dalam keragaman itu, Paulus menggambarkan lima jenis karunia yaitu rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar. Kelima bentuk karunia itu berkaitan dengan tugas pengajaran. Dari daftar karunia ini jelas karunia rasul dan nabi tidak diperlukan lagi dalam jemaat masa kini karena Alkitab telah lengkap tertulis.

Sekarang yang dibutuhkan adalah pengajaran agar isi Alkitab dimengerti. Orang yang baru percaya pada Yesus harus didewasakan imannya. Pengajaran adalah sarana utama pendewasaan iman agar semua jemaat diperlengkapi untuk tugas pelayanan. Bila jemaat telah diperlengkapi untuk tugas pelayanan maka pada akhirnya tubuh Kristus akan terbangun. Jadi pemberian karunia bertujuan untuk pembangunan tubuh Kristus, bukan untuk kepentingan pribadi atau prestise pribadi. Artinya, Allah melengkapi gerejaNya dengan karunia-karunia supaya nama Tuhan Allah dipermuliakan.

Doa  :     Bapa, ajar kami bersatu dalam pelayanan dengan menggu-nakan karunia talenta yang Tuhan beri, supaya Gerejamu dapat terus bertumbuh. Amin. (TS)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.