Minggu, 15 September 2019

Minggu Ketigabelas Setelah Trinitatis

TUHAN MENGASIHI ORANG-ORANG YANG

REMUK DAN RENDAH HATI

Ep.   Yesaya 57:14-21

  Nats ini diawali dengan seruan untuk mempersiapkan jalan dengan baik. Jalan dibuka dan batu yang menyebabkan dapat tersandung  diangkat. Batu sandungan ini merupakan rintangan di jalan keselamatan. Jalan yang dipersiapkan adalah jalan yang Tuhan lalui dalam membawa pulang bangsa Israel dari pembuangan Babel. Mereka yang tadinya dihukum dapat kembali menemui Tuhan sebagai Juruselamatnya. Tuhan itu jauh di tempat yang tinggi, di tempat yang kudus, tetapi Dia juga dekat dan hadir di mana-mana.

Dia adalah Allah yang Maha hadir (Omni presensia). Dia hadir bersama-sama orang yang remuk hatinya, misalnya orang yang teraniaya, tertindas, menderita, dan miskin. Dia mengasihi orang-orang yang rendah hati. Untuk apa? Untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk, dan menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati (Mzm. 113). Kenapa Tuhan  melakukannya? Bukankah bangsa  Israel telah berbuat dosa kepada Tuhan, sehingga mereka terbuang ke Babel?. Allah itu adalah Allah yang Mahapengampun dan Mahakasih. MurkaNya telah berakhir. Tuhan akan menuntun mereka dan akan memulihkan yang dekat atau jauh, di Yerusalem atau perantauan.  Mereka dipulihkan dengan penghiburan berupa penyembuhan, yaitu diberikan damai sejahtera, kesejahteraan lahir dan batin.

                Apakah kita punya rintangan untuk bertemu dengan Yesus Juruselamat kita? Kalau ada cabutlah rintangan itu yaitu kesempatan berbuat dosa. Dengan demikian kita akan bertemu dengan Tuhan sebagai Juruselamat. Mungkin kita remuk dan rendah hati. Tetapi, Tuhan tetap hadir dan bersama-sama kita. Tuhan mengasihi orang-orang yang remuk dan rendah hati. Dia akan memberikan kita keselamatan, damai sejahtera,  dan kesejahteraan lahir dan batin.

Doa  :    Terima kasih Tuhan, karena Tuhan mengasihi kami orang-orang yang remuk dan rendah hati. Amin. (WM)

HIDUP BIJAKSANA DAN RENDAH HATI

Ev.   Lukas 14:7-11

  Pada suatu hari Sabat, Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin Farisi untuk makan. Di situ hadir juga beberapa tamu lainnya. Ada yang menarik perhatian Yesus pada saat itu, dan hal itu sering terjadi pada suatu pesta. Apakah itu? Orang-orang berebut tempat yang terhormat, di dekat tuan rumah, agar dia dilihat orang adalah orang yang terhormat. Hal ini, dipakai Yesus saat itu menjadi pokok ajaranNya. Yesus memilih perumpamaan agar mudah dipahami.

Yesus mengatakan agar orang-orang yang diundang jangan langsung duduk di tempat yang terhormat. Kenapa?  Karena, bila ada  tamu yang lebih terhormat datang, maka tuan rumah akan memberikan tempat itu kepadanya. Akibatnya? Dia akan merasa malu karena harus meninggalkan tempat yang terhormat itu dan pindah ke tempat yang rendah bahkan paling rendah, di pinggiran. Yesus mengajarkan agar hidup bijaksana dan rendah hati. Dengan demikian, tuan rumah akan datang untuk menunjukkan tempat yang lebih terhormat. Kerendahan hatinya bermuara kepada kehormatan. Apa makna rohaninya? Barang siapa yang meninggikan dirinya akan direndahkan, dan barang siapa yang merendahkan dirinya akan ditinggikan oleh Allah.

                Dalam kehidupan sehari-hari pada masa kini orang selalu mencari tempat yang terhormat, bahkan memperebutkan tempat yang terhormat. Kenapa? Karena pada dasarnya, manusia itu ingin dihormati dan dinilai orang lain sebagai orang yang terhormat.  Nats mengajar kita agar hidup bijaksana dan rendah hati. Bijaksana saja tidak cukup, tetapi harus juga rendah hati. Kita rendah hati di hadapan Allah dan rendah hati terhadap sesama manusia. Ingatlah seperti tuan rumah itu yang bertindak dalam menempatkan tamu-tamunya, demikian juga Allah bertindak terhadap kita manusia (bnd. Luk. 1:51-53).

Doa  :    Ya Tuhan! Ajarlah kami agar kami mampu menjadi  manusia yang hidup bijaksana dan rendah hati, mampu menem-patkan diri kami sesuai penngutusanMu. Amin. (WM)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.