Minggu, 21 Juli 2019

Minggu Kelima Setelah Trinitatis

HATI YANG BERHIKMAT

Ep.   1 Rajaraja 3: 5-15

  Ketika Allah menawarkan apa yang dibutuhkan oleh Salomo, maka Salomo meminta diberikan hikmat, yaitu hati yang dapat membedakan yang baik dan jahat. Dalam Alkitab terdapat 5 sinonim kata hikmat, tetapi berbeda sumbernya. Pertama,  hokmah, yang berarti hikmat dari Allah. Kedua, daat, berarti pintar karena belajar. Ketiga, tabuna, berarti pintar karena pengalaman. Keempat,  mezimma, berarti pintar karena otak atau pikiran; dan kelima,  muzar, berarti pintar karena didikan.

Dalam nats ini, raja Salomo berhikmat dan pintar, karena anugerah Allah, tau membedakan yang baik dan yang buruk, serta tau mengambil keputusan yang baik. Ketika Salomo bangkit menjadi raja menggantikan bapaknya raja Daud, dia masih remaja. Dia sadar masih kurang berpengalaman, dan melihat bangsa yang dipimpinnya adalah bangsa yang besar. Sebab itu Salomo meminta hikmat, dan Tuhan memberikan hati yang penuh hikmat dan pengertian. Di awal pemerin-tahannya, Salomo pergi ke Gibeon untuk berdoa menyembah Tuhan. Dia ingin menyembah Tuhan dari hati ke hati. Dan Tuhan merespon datang menampakkan diri dalam mimpi. Dan terjadilah komunikasi yang sangat akrab. Tuhan tidak hanya memberikan Salomo hati yang penuh hikmat, akan tetapi juga ditambahkan kekayaan dan kemuliaan.

                Melalui nats ini kita boleh belajar meneladani Salomo untuk menggantungkan diri kita hanya kepada pertolongan Tuhan, memohon diberikan hati yang penuh hikmat dan pengertian, maka Tuhan pun akan menambahkan segala kebutuhan kita indah pada waktunya.

Doa  :     Tuhan berilah kami hati yang berhikmat supaya kami
dapat melakukan segala yang baik sesuai dengan  perintah dan kehendakMu. Amin. (MPSil)

HIDUP BERIMAN DAN BERHIKMAT

Ev.   Yakobus 1: 2-12

  Nats ini mengajarkan kita cara menjadi pemanang dalam menghadapi pencobaan. Pertama, melihat dan menghadapi pencobaan itu sebagai ujian atau test, bukan dalam arti “temptation”. Dalam menghadapi ujian, kita tekun berupaya memper-siapkan diri, dan mengharapkan lulus dalam ujian dan penuh sukacita. Dalam menghadapi ujian kita sadar mempunyai keterbatasan, dan kita membutuhkan dan di dalam iman mohon pertolongan Tuhan. Kedua, ujian itu mendatangkan ketekunan, menuntun kita supaya sabar dalam pengharapan. Itu sebabnya Firman Tuhan mengatakan: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Ayat 12).

                Ketiga, hasil akhir dari ketekunan menghadapi pencobaan itu adalah buah mahkota kemenangan yang mendatangkan rasa sukacita. Di dalm iman, kita berpengharapan bahwa Tuhan Allah akan memberikan buah itu sesuai dengan janjiNya. Tuhan memberikan kita hikmat supaya melakukan segala yang baik. Dengan melakukan segala yang baik, maka kita juga dapat menghasilkan buah-buah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Keempat, pencobaan juga mendorong kita untuk tekun berdoa. Kita sadar akan keterbatasan kita. Sebab itu kita harus selalu datang kepada Tuhan, berseru untuk mohon pertolongan dan dukunganNya. FirmanNya mengatakan: ”Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku (Maz. 50:15). Dengan iman, hikmat Tuhan dan doa, kita dimampukan memenangkan segala pencobaan.

Doa :      Terima kasih Tuhan, yang telah memberikan kami iman dan hikmat dalam menghadapi pencobaan. Amin. (MPSil)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.