Minggu, 7 Juli 2019

Minggu Ketiga Setelah Trinitatis

CARA MENGHADAPI KEJAHATAN ORANG LAIN

Ep.  Yesaya 50:7-10

  Yesaya 50 dan pasal berikutnya berbicara tentang Hamba Tuhan, yang harus menderita dari pihak orang jahat karena memper-juangkan kebenaran. Dia rela mengorbankan dirinya demi keselamatan orang lain. Pribadi Hamba Allah inilah yang diwujudkan dalam diri Tuhan Yesus Kristus, yang rela menderita hingga disalibkan untuk mewujudkan missinya menyelamatkan orang-orang berdosa.

        Sikap Hamba Tuhan seperti itulah yang menjadi teladan bagi kita dalam menghadapi berbagai usaha kriminalisasi dari pihak lain.  Pertama, sama seperti Hamba Tuhan itu, kita harus tetap taat kepada Allah. Mau membuang segala keinginan dan kepentingan kita, dan hanya melakukan kehendak Allah yang mengutus kita. Kedua, walau harus menderita, kita harus tetap rendah hati, low profile, karena hanya orang yang rendah hati yang akan ditinggikan oleh Tuhan, seperti Tuhan Yesus (Fil. 2:5-11). Ketiga, kita harus mau menderita untuk memperjuangkan kebenaran. Jangan pernah menjual diri atau menjual keyakinan demi menghindari kriminalisasi dari pihak lain. Kita harus meneladani Tuhan Yesus yang merangkul penderitaan itu demi menye-lamatkan kita. Keempat, perjuangkan kebenaran tanpa kekerasan. Jangan pernah dikalahkan oleh kejahatan orang lain. Membalas kejahatan, bukan hanya akan menambah penjahat baru, yaitu kita sendiri, tetapi adalah tindakan mengimbangi Allah, karena pembalasan hanyalah hak Allah. Kita dapat membalas segala kejahatan hanya dengan kebaikan saja. Itulah cara menghentikan segala kejahatan.

        Ingatlah, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup orang percaya tanpa penderitaan. Tetapi Yesus menjanjikan penyertaanNya. Itulah andalkan menghadapi semua kejahatan orang lain. Dengan penyertaan kuasa Tuhan Yesus kita menjadi lebih dari pemenang.

Doa  :     Ya Tuhan, kami yakin akan penyertaanMu, yang menguatkan kami menghadapi kejahatan orang lain terhadap kami. Amin. (STPS)

ALLAH YANG SEJATI

Ev.  Kisah Para Rasul 17:22-30

  Dari nats ini kita melihat, Paulus benar-benar seorang penginjil yang luar biasa. Dia jeli melihat dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan di depan matanya. Dan dia sangat peduli akan keselamatan orang lain, sehingga dia segera memberitakan Injil kepada orang Athena agar mereka meninggalkan keyakinannya yang lama dan percaya hanya kepada Tuhan Yesus, supaya mereka selamat.

Paulus menobatkan orang Athena dengan memperkenalkan Allah yang sejati kepada mereka. Pertama, Allah sejati tidak pernah kekurangan sehingga harus disogok (Ayat 25, Mzm. 50:9+12), tetapi adalah Allah yang Mahakuasa, penilik segala sesuatu. Dialah justru yang memberikan segala sesuatu untuk kita. Persembahan kita hanyalah sebagai ucapan syukur kita atas pemberianNya. Kedua, Allah sejati ada di semua tempat, tidak dikurung di satu tempat atau benda. Dia tidak bisa dikuasai oleh apapun, tetapi Allah-lah yang menguasai segala sesuatu, sehingga Dia tahu segala yang kita lakukan (Ayat 24; Mzm. 139). Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu. Ketiga, Allah sejati adalah Allah yang dekat dengan kita, Allah yang sudah menjadi manusia di dalam Tuhan Yesus, yang ada dan diam di antara kita, yang memahami keberadaan kita, dan telah memberikan nyawaNya untuk menebus kita. Di dalam Yesus itulah, Allah menjadi bapa dan sahabat yang sangat dekat dengan kita.

        Karena itu, mari, sembahlah, ikutilah, imanilah dan turutilah Allah sejati yang sudah datang di dalam Tuhan Yesus. Jangan mau menyembah allah lain. Hanya di dalam Allah yang sejati tersedia kasih karunia keselamatan, yaitu kehidupan yang kekal. Dengan mengan-dalkan Allah yang sejati kita tiba pada tujuan itu.

Doa  :     Ya Allah, yang sudah hadir dalam Tuhan Yesus, Engkaulah Allah sejati. Ingatkan kami selalu supaya hanya menyembahMu. Amin. (STPS)

About the author: bksmarturia

2 comments to “Minggu, 7 Juli 2019”

You can leave a reply or Trackback this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published.