Minggu, 16 Juni 2019

Minggu Trinitatis

MILIKILAH IMAN YANG TEGUH

Ep. Ibrani 11:7-12

  Semua orang yang percaya kkpada Tuhan pasti disebut sebagai orang yang beriman, atau orang yang beriman adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Persoialannya adalah, bagaimana dengan iman yang kita miliki itu? Apakah iman itu hanya diungkapkan saja lewat mulut atau harus dibuktikan? Iman yang benar tentu harus diperlihatkan lewat perbuatan sehari-hari.

Karena imanlah sehingga Nuh taat kepada perintah Allah dengan mau membangun sebuah bahtera untuk menyelamatkan keluarganya. Karena iman juga sehingga Abraham mau pergi ke suatu tempat yang diperintahkan Allah untuk dituju walau ia tidak tahu dimna tempat itu. Karena iman juga hingga Abraham dan sara boleh mendapatkan anak dan keturunannya memenuhi bumi walau usinya sudah tua bahkan sara disebut mandul.

Saudaraku, semua kita memiliki iman, namun yang sering terjadi dalam hidup kita hanyalah iman yang disebutkan atau pengakuan iman yang diikrakan. Di depan perikop ini telah dikatakan bahwa iman itu adalah dasar segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti segala sesuatu yang kita lihat. Fakta yang terjadi justru kita lebih sering memakai pikiran kita untuk menilai atau mendasari dari apa yang kita mau lakukan.

Jangan-jangan kita adalah orang-orang percaya yang masih saja menuntut bukti untuk mempercayai bahwa Tuhan sungguh mengasihi kita. Berbeda dengan para tokoh yang disebutkan di tas, mereka justru lebih mengedepankan iman mereka dari pada bukti, namun dengan  iman yang teguh itu justru mereka mendapatkan lebih dari apa yang mereka inginkan.

Jadilah orang-orang percaya yang memiliki iman teguh karena dengan iman kita akan memperoleh apa yang kita inginkan terlebih untuk mendapatkan hidup yang kekal.

Doa:       Ya Tuhan, kuatkanlah imanku, agar aku selalu percaya kepadaMu dan selalu mau melakukan perintahMu. Amin. (LHM)

IMAN YANG MENYELAMATKAN

Ev. Kejadian 22:1-12

  Siapa sih orang yang tidak mencintai atau menyayangi hartanya atau milik kepunyaannya? Apalagi jika hartanya itu didapatkan dengan penuh perjuangan. Tetapi disatu sisi kita diperhadapkan dengan hukum Tuhan yang mengatakan: kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu. Dalam hal ini kita diminta untuk dapat mengasihi Allah lebih dari segala-galanya, artinya Allah harus kita tempatkan pada posisi yang paling utama untuk kita kasihi dan sayangi.

Abraham yang telah mendapatkan harta kesayangannya, yaitu seorang anak yang diberi nama Ishak tentu akan memeliharanya dan menjaganya agar kelak menjadi orang yang hebat. Apalagi anak itu dinantikan cukup lama hingga umur Abraham mencapai 100 tahun.

Bagi orang Batak dikatakan bahwa anak itu adalah harta kekayaan, apalagi kelahiran anak itu setelah bertahun-tahun ditunggu. Persoalannya ketika kita menganggap bahwa anak adalah harta kekayaan dan yang paling berharga, lantas bagaimana jika Allah menuntut kita untuk tetap lebih mengasihi Allah ketimbang harta milik kita? Tidak demikian yang terjadi pada Abraham, walau ia menunggu kelahiran anaknya sampai berpuluh tahun, namun ia tetap menganggap bahwa Allah tetap lebih berharga di dalam hidupnya. Ketika Allah meminta Abraham untuk menjadikan Ishak anaknya sebagai persembahan korban bakaran, Abraham tidak menolak, bahkan dengan setia mentaati perintah Allah.

Marilah kita meniru iman Abraham yang tetap setia menunjukkan ketaatannya walau harus mengorbankan harta kekayaannya sendiri. Sedikitpun tidak ada keluhan atau rasa kecewa Abrahan kepada Allah ketika ia diminta harus mempersembahkan anaknya Ishak, dibalik imannya yang teguh Abrahampun justru memperoleh kemangan dan keselamatan yang dari Allah.

Doa:       Ya Tuhan, Engkau adalah andalanku dan bentengku yang teguh, bersamaMu pasti aku akan selalu menang. Amin. (LHM)

About the author: bksmarturia

Has one comment to “Minggu, 16 Juni 2019”

You can leave a reply or Trackback this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published.