Jumat, 14 Juni 2019

HARAPAN ITU NYATA

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5)

Mzm. 150:1-6                            BE. 467:1                             Luk. 18:9-14

  Penderitaan dapat membuat orang-orang Kristen meragukan kasih Allah. Kita bergumul dengan kebaikan dan keadilan Allah pada saat kita mengalami penyakit, kesendirian, kekecewaan, kemiskinan, dan berbagai bentuk penderitaan yang lain. Benarkah penderitaan berarti ketidakadaan kasih dan kebaikan Allah? Sama sekali tidak! Paulus justru mengajarkan bahwa kesengsaraan merupakan sarana pembuktian kasih Allah jika penderitaan itu disikapi dengan tepat (ayat 3-5). Penderitaan mendewasakan karakter kita, sehingga pada akhirnya malah mengokohkan pengharapan kepada Allah. Dari kesengsaraan menuju pada ketekunan tahan uji karakter. Dalam ungkapan yang lebih sederhana dan ringkas, iman seseorang menjadi matang melalui kesengsaraan. Menariknya, di mata Paulus kepastian pengharapan tidak hanya ditentukan oleh respons kita yang tepat terhadap kesengsaraan. Yang penting adalah apa yang dilakukan oleh Allah kepada kita. Kasih Allah yang memastikan bahwa pengharapan kita tetap teguh. Di ayat 5 Paulus berkata: “Dan pengharapan tidak mengecewakan (lit. “tidak memalukan”), karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”. Kasih ilahi seperti apa yang sedang diterangkan oleh Paulus di sini? Mengapa kasih ilahi tersebut bisa menjadi pondasi yang kokoh bagi pengharapan kita?Kasih bukan sekadar sebuah konsep. Bukan hanya sebuah gagasan yang abstrak. Bukan pula sebuah ungkapan yang kering. Apalah artinya kasih apabila tidak dapat dirasakan? Setiap orang Kristen yang sejati pasti pernah mengalami kasih ilahi. Kata “telah dicurahkan” (enkechytai) dalam teks Yunani berbentuk perfek, sehingga menyiratkan sebuah tindakan yang terjadi di masa lampau tetapi hasil atau akibatnya masih dirasakan sampai sekarang.

Doa:       Ya Tuhan, dalam situasi apapun itu jadikanlah aku pembawa damai, di dalam hidupku. Amin. (LPH)

About the author: bksmarturia

2 comments to “Jumat, 14 Juni 2019”

You can leave a reply or Trackback this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published.