Minggu, 9 Juni 2019

Minggu Pesta Pentakosta Pertama

JADILAH MANUSIA BARU

Ep. Kolose 3:5-11

  Sebagian besar jemaat Kolose adalah orang bukan Yahudi. Mereka dulu hidup sebagai manusia lama. Hidup manusia lama adalah hidup menurut keinginan daging. Hidupnya jauh dari Allah dan memusuhi Allah dalam hati dan pikiran (Kol. 1:21). Dengan kata lain, hidup mereka penuh dosa dan muaranya adalah maut (neraka). Kini mereka sudah menjadi orang Kristen. Karena itu, Paulus meminta mereka untuk mematikan keinginan menurut daging, yaitu pencabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Selanjutnya, Paulus meminta mereka untuk membuang dari diri mereka marah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor, saling mendustai. Artinya, harus ada perubahan total dalam kehidupan mereka, dari manusia lama menjadi manusia baru. Manusia baru yang  diperbarui secara progresif, terus-menerus menuju kesempurnaan.

Salah satu dampak kekristenan yang luarbiasa adalah di dalam manusia baru itu tidak ada lagi tembok-tembok pemisah di dalam kehidupan mereka. Tembok pemisah itu telah dihancurkan. Apakah itu tembok pemisah yang berasal dari kelahiran dan kebangsaan, ibadah dan upacara, yang berbudaya atau tidak, dan status sosial yang berbeda (bnd. Gal. 3:28). Semua mereka sama di hadapan Yesus.

                Kita adalah orang Kristen. Apakah kita sudah menjadi manusia baru, yang hidup menurut keinginan Roh?  Atau kita masih manusia lama, yang hidup menurut keinginan daging. Kita kini masih hidup. Artinya kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berubah dari manusia lama yang hidup menurut keinginan daging menjadi manusia baru yang hidup menurut keinginan Roh. Semoga Roh Kudus yaitu Roh Penolong, menolong kita pada Hari Minggu Pentakosta ini untuk mampu berubah menjadi manusia baru yaitu manusia yang hidup menurut keinginan Roh.   

Doa:       Berikanlah kekuatan kepada kami Tuhan, agar kami berubah menjadi manusia baru yang hidup menurut keinginan Roh. Amin. (WM)

HIDUPLAH MENURUT KEINGINAN ROH

Roma 8:9-11

  Ada dua pilihan hidup menurut Paulus. Hidup menurut keinginan daging atau hidup menurut keinginan Roh. Masing-masing tentu ada muaranya. Hidup menurut keinginan daging mengarah dan berpusat kepada diri sendiri (egosentris). Dia hidup bebas (sesuka hatinya). Dia sangat mencintai dirinya sendiri, orang lain tidak perlu. Hidup demikian tidak berkenan kepada Allah, tidak menyenangkan Allah. Artinya, hidupnya berdosa dan muaranya adalah maut (kematian kekal). Bagaimana hidup menurut keinginan Roh? Hidup menurut keinginan Roh bertolakbelakang dengan hidup menurut keinginan daging. Hidup menurut keinginan Roh ialah hidup yang tidak bebas (tidak sesuka hatinya). Hidupnya selalu terikat, terkait, bergantung kepada Yesus, berpusat kepada Yesus (Kristosentris). Artinya, hidup yang membenci dosa, dan muaranya adalah keselamatan (hidup kekal). Dia tidak takut menderita  bahkan mati, karena baginya menderita hanyalah sementara (di dunia) dan mati baginya merupakan pintu untuk masuk ke kehidupan kekal. Hidup demikianlah yang berkenan kepada Allah, yang menyenangkan Allah.

                Di masyarakat cukup banyak orang yang memilih hidup menurut keinginan daging. Bukankah kini semakin meningkat budaya konsumerisme dan hedonisme? Bukankah pengikut seks bebas dan pengguna narkoba semakin meningkat? Bukankah, di tempat-tempat tertentu, iklan, dan salesman dan salesgirl semakin gencar menawarkan hidup menurut keinginan daging? Hidup menurut keinginan daging mungkin nikmat dan manis, tetapi itu hanya sesaat (sementara), dan muaranya kematian kekal. Karena itu, berjanjilah pada Hari Minggu Pentakosta ini untuk memilih  hidup menurut keinginan Roh. Mungkin tidak nikmat dan pahit, tetapi itu hanyalah sesaat. Yang pasti muaranya adalah keselamatan (hidup kekal).

Doa:       Ya Tuhan! Kami kadang-kadang masih hidup menurut keinginan daging. Karena itu, kuatkanlah kami agar kami  selalu hidup menurut keinginan Roh.  Amin.  (WM) 

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.