Minggu, 28 April 2019

Minggu Quasimodogeniti

JADILAH GEMBALA YANG BAIK

Ep. Mazmur 23:1-6

Keberadaan gembala sangat dikenal dan cukup penting di Timur Tengah. Itu disebabkan kehidupan utama masyarakat adalah peternakan. Keberadaan dan kehidupan yang digembalakan sangat terganptung pada komitmen gembala dalam melaksanakan tugasnya. Seorang gembala yang baik mau mengorbankan dirinya dengan mendahulukan keselamatan dan kelangsungan hidup yang digembalakannya.

 Pemazmur (Daud) memakai terminologi gembala (tentu gembala yang baik) untuk Tuhan (Allah) agar mudah dimengerti oleh para pendengarnya. Pemazmur mengungkapkan tujuh bukti yang dialaminya sehingga dia menyimpulkan Tuhan (Allah) adalah gembala yang baik. Ke tujuh bukti itu merupakan kata kerja yang mengindikasikan Allah yang berbuat, yang aktif. 1) Allah  membaringkan aku; 2) Allah membimbing aku; 3) Allah menyegarkan jiwaku; 4) Allah  menuntun aku; 5) Allah menghibur aku; 6) Allah  menyediakan hidangan bagiku; 7) Allah mengurapi kepalaku. Allah itu luarbiasa.

Dalam Perjanjian Baru, Gembala yang baik itu adalah Tuhan Yesus (Yoh. 10:11,14-17). Dia mau mencari dombaNya yang tersesat walaupun hanya satu ekor. Dia bukanlah gembala upahan. Dia dengan tulus, sukarela, mau memberikan nyawanya untuk keselamatan dan kehidupan domba-dombanya (umatNya).  Itu dibuktikanNya di kayusalib. Ada juga gembala yang tidak baik, yaitu gembala yang jahat, gembala upahan, gembala yang tidak peduli pada keselamatan dan kehidupan domba-domba yang digembalakannya. Jika kita telah digembalai oleh Yesus dengan baik, maka sekarang kita diminta untuk mau menjadi gembala yang baik bagi orang lain.

Doa:       Bapa Kami yang di sorga. Berilah kekuatan, kemampuan, kemauan kepada kami, agar kami menjadi gembala yang baik. Amin.  (WM)

LAKUKAN TUGAS PENGGEMBALAANMU

Ev. Yohanes 21:15-19

Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Tuhan Yesus tentu mengenal dengan dekat muridNya yang bernama Petrus, demikian juga sebaliknya. Bukankah Petrus dengan tegas menjawab pertanyaan Yesus mengenai siapakah diriNya? Engkau adalah Mesias, Anak Allahyang hidup (Mat. 16:16). Bukankah Petrus menghunus pedangnya dan memutuskan telinga hamba Imam Besar (Mat. 26:51; Mrk. 14:47) sebaqagai bukti kasihnya kepada Yesus? Namun kasih Petrus tidak konsisten. Dapat berubah karena situasi dan kondisi. Kasih dengan syarat tanpa risiko. Buktinya, Petrus juga menyangkal Yesus tiga kali, bahkan yang kedua dan ketiga menyangkal dengan bersumpah (Mat. 26:69-75). Kalau demikian, kenapa Yesus sampai tiga kali bertanya kepada Petrus, apakah engkau mengasihi aku? Yesus tahu apa yang ada dalam benak Petrus karena Dia adalah Tuhan. Yesus hanya ingin agar Petrus menjawab secara tegas dan jujur. Petrus secara tegas dan jujur menjawab; Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau. Yesus melihat kesungguhan Petrus yang totalitas siap mengikuti Dia. Ada komitmen kasih yang konsisten, yang tanpa syarat (siap menerima risiko). Karena itu, Yesus memberi tugas kepada Petrus; Gembalakanlah domba-dombaKu. Atau dengan kata lain; Lakukanlah tugas penggembalaanmu. Tugas itu tentu sangat berat dan penuh risiko. Ada konsekuensi yang harus diterima, yaitu mau bersama Yesus menjalani jalan penderitaan (via dolorosa).

                Kita adalah orang Kristen, artinya pengikut Yesus. Kita juga adalah gembala. Apakah di kantor kita, di gereja, atau di keluarga. Marilah kita lakukan tugas penggembalaan dengan kasih sebagai bukti kasih kita kepada Yesus. Untuk itu, kita harus punya komitmen yang konsisten dan tanpa syarat dalam tugas  penggembalaan.

Doa:       Tuhan, kami mengasihiMu dan  mau melakukan tugas penggembalaan. Karena itu, berikanlah kekuatan, kemam-puan dan kemauan kepada kami. Amin. (WM)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.