Minggu Okuli

MELAYANI TUHAN DENGAN TULUS DAN SETIA

Ep.  Markus 12:1-12

Ketegangan antara Yesus dan orang Yahudi terutama para imam kepala dan ahli Taurat serta tua-tua semakin tinggi di Yerusalem.  Yesus dengan sengaja menceritakan sebuah perumpamaan yang sarat akan alegoris kepada mereka. Ini jelas menyinggung bangsa Israel dan menyatakan kesalahan dan hukuman kepada mereka.   .

Perumpamaan (Ayat 1) menunjuk pada kitab nabi Yesaya 5:1-2 yang secara alegoris menunjuk pada bangsa Israel dan Allah. Hamba-hamba yang diutus oleh pemilik kebun anggur adalah para nabi dan Yesus dialegorikan sebagai anak pemilik kebun anggur. Pemilik kebun anggur adalah Allah dan para penggarap adalah bangsa Israel. Apa yang dilakukan oleh para penggarap sama seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap para nabi dan puncaknya kepada Yesus. Para hamba dipermalukan, dianiaya, dan dibunuh. Begitu juga perlakuan para penggarap terhadap anak pemilik kebun anggur. Anak pemilik kebun anggur dibunuh dan ini menunjuk kepada kematian Yesus. Kematian sang anak mendatangkan murka pemilik kebun anggur. Ini adalah hukuman Allah kepada bangsa Israel.

Bangsa Israel mendapat hukuman Allah, karena para penggarap kebun anggur tidak menepati janjinya. Para penggarap kebun anggur ini mencerminkan watak  atau karakter berontak melawan sang pemilik kebun.  Perjanjian  dengan pemilik kebun untuk berbagi hasil, mereka ingkari. Bahkan mereka ingin menguasai dan memilikinya. Begitu juga dengan Allah telah mengikat janji dengan nenek moyang bangsa Israel untuk menjadikan mereka bangsa yang besar, walau terkadang mereka suka memberontak.

Doa:       Jadikan kami menjadi umatMu yang tetap setia melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan taat melakukan perintahMu. Amin. (LasN)

TUHAN YESUS BATU PENJURU KITA

Ev.  Mazmur 118:22-29

ikatakan “batu yang dibuang, menjadi batu penjuru” (Ayat 22), artinya bahwa batu penjuru adalah pondasi atau menjadi dasar dari berdirinya suatu bangunan, mejadi batu yang utama yang jauh lebih berharga dari batu-batu yang lainnya. Batu penjuru harus kuat dan kokoh untuk menopang seluruh bangunan.

Dalam perjalanan hidup ini kita mungkin sering merasa ditolak, dipandang sebelah mata atau bahkan dihina dan dicaci, karena situasi dan kondisi sosial kita. Hal ini dimungkinkan terjadi kita tidak disukai karena kita berjalan dalam kebenaran. Nats ini memberi pengharapan kepada kita, bahwa  “batu yang dibuang itu, bisa menjadi batu penjuru”. Semua itu bisa terjadi apabila kita tetap setia di jalan Tuhan dan senantiasa bersyukur, apapun yang terjadi. Tuhan akan terus bekerja dalam kehidupan kita, sehingga semuanya akan indah pada waktuNya. Dan apa yang terjadi pada waktu saat itu tiba, pasti  kita akan bersorak-sorai dalam sukacita. Sebagaimana dikatakan dalam Mazmur 126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan itu, tetapi penderitaanNya, kematian dan kebangkitanNya telah menjadikan Dia sebagai batu penjuru (Kis. 4:11). Dia menjadi dasar yang kokoh bagi iman kita, sebab: “tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan yaitu Yesus Kristus”  (1 Kor.3:11). Oleh karena itu, percayalah kepadaNya dan jadikanlah Yesus sebagai dasar hidup kita, sehingga ketika angin dan badai kehidupan menerpa, kita tidak akan tidak goyah, tetapi tetap teguh dan berpengharapan bahkan di situasi yang sulit sekalipun.

Doa:       Tuhan, jadikan dan kuatkan kami dalam proses kehidupan kami, agar kami boleh menjadi batu-batu yang kokoh dalam membangun iman percaya kami kepadaMu. Amin. (LasN)