Minggu, 17 Februari 2019

Minggu Septuagesima

TAKUT AKAN TUHAN PERMULAAN HIKMAT

Ep.  Ayub  28:20-28

Sering muncul pertanyaan dalam diri kita: Bila Allah itu adalah adil dan penuh kasih, mengapa Dia membiarkan orang saleh seperti Ayub itu menderita begitu menyakitkan. Ayub dan sahabat-sahabatnya bersoal jawab tentang itu. Ayub memuji kehebatan kemam-puan manusia dalam  mengolah dunia. Tetapi kehebatan kemampuan manusia itu justru mendatangkan musibah. Lalu apa yang salah? Ayub mendapat jawabannya: yaitu karena mereka kurang berhikmat.

Demikian dengan pertanyaan tadi. Yang dapat menjawabnya hanyalah orang yang berhikmat. Bila tidak, maka jawaban kita pasti salah. Firman Tuhan mengatakan bahwa hikmat itu sangat berguna. Hikmat itu merupakan kunci sukses (Pengkotbah 10:10b), yang memelihara hidup pemiliknya (Pengkotbah 7:12), memberi kekayaan (Amsal 24:3),  dan lain-lain. Karena itu, anak-anak muda harus memiliki hikmat agar mampu menghadapi zaman canggih, era digital dan terutama menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 ini.

Lalu, dari manakah hikmat itu bisa diperoleh? Ditegaskan bahwa hikmat itu tidak akan bisa diberikan oleh dunia ini. Lalu dari mana? Hanya dari Tuhan (Ayat 23). Bagaimana caranya? Hanya dengan takut akan Tuhan (Ayat 28b). Apa artinya takut akan Tuhan? Pertama, kesadaran bahwa Tuhan itu adil dan benar, tetapi juga pengasih dan penyayang, sehingga kita takut melanggar kehendakNya. Dengan ketakutan ini, kita akan menjaga diri sebaik-baiknya berjalan di jalan Tuhan. Kedua, timbul kekaguman akan Tuhan. Dengan keka-guman ini maka kita mau menyerahkan seluruh hidup kita dituntun oleh Tuhan, dan hanya mengandalkan Tuhan.  Lalu, apapun yang akan kita lakukan, semuanya direncanakan dengan terlebih dahulu bertanya kepada Tuhan, dan melakukannya hanya bersama Tuhan.

Doa  :     Tuhan, berikan kami hikmatMu dalam menjalani hidup ini, supaya kami dapat dengan tulus melakukan FirmanMu sesuai kehendakMu. Amin. (STPS)

SALIB ADALAH HIKMAT ALLAH

Ev.   1 Korintus 1:18-25

Mengapa orang Kristen menggunakan salib sebagai simbol kea-gamaannya? Bukankah salib adalah simbol kehinaan dan penderitaan? Itulah pendapat orang tertentu di Korintus, yang mengatakan: Salib itu adalah kebodohan. Lalu Paulus di Ayat 18 mengatakan: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah”. Yang menganggap salib sebagai kebodohan, hidupnya berakhir pada kebinasaan. Siapakah mereka? Pertama, adalah orang Yahudi, yang mengatakan bahwa Yesus itu bukanlah Mesias, karena Mesias tidak mungkin disalibkan sebagai penjahat.

                Kedua, mereka adalah orang Korintus yang sangat memuja kepandaian (sophia) mereka. Mereka mengatakan tidak mungkin seorang yang tersalib bisa menyelamatkan dunia dari dosa. Terutama, kata mereka, tidak mungkin Allah bisa menjadi manusia dan sebaliknya; hanya orang bodoh yang mempercayainya karena tidak ada logikanya. Pasti, orang seperti ini tidak akan mau menerima keselamatan yang sudah disediakan Tuhan Yesus. Sehingga hidup mereka akan berakhir di kebinasaan di neraka kekal.

                Karena itu, imanilah salib Yesus. Salib adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan kita. Dengan salib, Tuhan Yesus menanggung seluruh dosa dan kutuk yang seharusnya bagi kita. Tetapi, hidup Yesus tidak berakhir di salib. Karena Yesus kemudian bangkit mengalahkan maut dan iblis itu. Lalu naik ke sorga menyediakan hidup kekal bagi yang percaya padaNya. Siapa yang mengimani itu pasti selamat.  Itulah hikmat Allah yang tidak dapat diselami oleh logika manusia. Hanya orang berhikmat yang dapat memahami salib dengan benar.

Doa  :     Tuhan, berikan kami hikmatMu agar kami bisa memahami arti salib Yesus yang membawa keselamatan bagi semua kami manusia berdosa. Amin. (STPS)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.