Minggu, 30 Desember 2018

Minggu Setelah Natal

MENYAMBUT  NATAL SEJATI

Ep. Lukas 2:25-35

          Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan (Lukas 2:34). Nats ini membuat dan membuka hati kita untuk berpikir ulang tentang pendekatan terhadap Natal: “Marilah kita dengan sekuat tenaga menghindari godaan untuk menjadikan ibadah Natal kita sebagai sarana menarik diri dari tekanan dan dukacita. Yesus datang ke dunia nyata, ke kota di mana tak ada tempat bagiNya, dan ke negeri di mana Herodes, pembunuh orang-orang tak berdosa, menjadi raja. Yesus datang kepada kita, bukan untuk melindungi kita dari kekejaman dunia, melainkan untuk memberikan kepada kita keberanian dan kekuatan untuk menanggungnya. Dia datang bukan juga untuk, dengan cara ajaib, merenggut kita dari konflik kehidupan sehari-hari, melainkan untuk memberi kita rasa damai sejahtera.   

Damai dari Tuhan Yesus penuh kasih dan sukacita di dalam hati kita. Sehingga dengan demikian, kita dapat tetap tenang dan tabah pada saat menghadapi konflik yang dahsyat sekalipun. Dan kita juga dapat membawa kesembuhan, yaitu kedamaian, bagi dunia yang tercabik. Ketika Maria dan Yusuf menyerahkan bayi Yesus kepada Tuhan, Simeon berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri — supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Lukas 2:34-35).

Natal bukan dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari kenya-taan hidup, melainkan untuk masuk ke dalamnya, tinggal bersama Sang Raja Damai. Yesus datang sebagai terang untuk memberi cahaya bagi dunia yang gelap.

Doa  :     Tuhan, dengan sukacita kami menyambut Tuhan Yesus yang membawa terang bagi kami. Amin. (LasN)

 

  KETIKA TUHAN BERKENAN KEPADA KITA

Ev.   Mazmur 149: 1-9

        Tuhan Allah kita adalah Allah yang senantiasa senang ketika menyaksikan umatNya hidup sesuai dengan perintah dan ketetapanNya. Tuhan berkenan atas pujian dan nyanyian yang mengagungkan karya, kuasa dan keperkasaan Tuhan.

Ada beberapa hal yang terjadi ketika Tuhan berkenan kepada umatNya, yaitu: Pertama, Tuhan mengaruniakan keselamatan bagi umatNya. Pemazmur menulis demikian: “Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” (Ayat 4). Dan keselamatan dari Tuhan bagi umatNya itu adalah keselamatan yang sempurna dan total. Baik jasmani, ekonomi dan terlebih keselamatan secara rohani. Keselamatan itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian anugerah Allah bagi kita.

                Kedua, Tuhan mengaruniakan sukacita bagi umatNya. Pemazmur  menulis demikian: “Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka” (Ayat 5-6a). Ketika Tuhan berkenan kepada umatNya, maka yang terjadi atas umatNya ialah ada sukacita yang dilimpahkan oleh Tuhan dalam hidup umatNya. Kita bisa memuji, menyembah dan bersorak-sorai bukan karena kita bisa dan mampu, tetapi Tuhanlah yang berkarya di dalam kita, sehingga kita bisa bersukacita. Sukacita yang kita miliki tidak ditentukan oleh situasi dan kondisi di dalam dan di luar diri kita. Tetapi sukacita itu lahir dari suatu persekutuan yang harmonis bersama dengan Tuhan. Ketika Tuhan berkenan kepada umatNya, maka pasti Tuhan mengaruniakan keselamatan dan sukacita bagi umatNya.  Biarlah kita terus berusaha untuk hidup menyenangkan hati Tuhan dalam segala hal di kehidupan kita.

Doa  :     Beri kami kekuatan agar kami mampu selalu setia pada perintahMu dan ketetapanMu, selagi Tuhan masih berkenan. Amin. (LasN)

 

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.