Minggu, 11 November 2018

Minggu Keduapuluh Empat Setelah Trinitatis

JAUHILAH CINTA UANG

Ep.  1 Timotius 6 : 11 – 21

        Pada ayat 11, Paulus menyatakan jauhilah semuanya itu. Apakah yang harus dijauhi? Cinta uang. Kenapa? Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (Ayat 10). Ini berarti, salah satu penyebab dosa adalah cinta uang (phila urgia). Apakah uang itu perlu? Perlu, tetapi bukan prioritas utama. Prioritas utama adalah Kerajaan Sorga (Mat. 6:33). Uang perlu, tetapi bukan tujuan hidup yang menye-lamatkan. Keselamatan tidak tergantung seberapa uang yang dimiliki. Keselamatan adalah anugerah Allah yang gratis dan bukan hasil pekerjaan dan amal manusia.

                Orang yang cinta uang menganggap uang segala-galanya, sehingga dia sangat tergantung dengan uangnya. Dia menjadi hamba uang (Ibr. 13:5). Itu sebabnya, Paulus tidak menyatakan kejarlah uang itu, tetapi kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan (Gal. 5:22-23). Menjauhi cinta uang merupakan perintah perbuatan iman yang harus dimenangkan. Yesus memperingatkan orang-orang kaya. Apakah kaya itu salah? Tidak. Buktinya Yesus juga berinteraksi dengan orang kaya. Dia pernah makan di rumah orang kaya. Dia menerima kado yang mahal dari orang Majus dan dana  pelayananNya dari Yohana dan Susana (Luk. 8:3). Yang penting dia tidak tinggi hati dan sumber kekayaannya halal dan kekayaannya berfungsi sosial (Kis. 4:32), menjadi berkat kepada orang lain.

                Kini semakin banyak orang yang mengejar uang. Apapun  ditempuh asal banyak uang. Salah satu yang ditempuh adalah korupsi. Dia menjadi hamba dari hartnya. Harus hati-hati, karena di mana hartamu di situ juga hatimu berada (Luk. 12:34). Hati-hatilah karena banyak jerat-jerat uang. Karena itu, jauhilah cinta uang, dan kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan.

Doa  :     Kuatkanlah iman kami Tuhan, agar kami mampu menjauhi cinta uang, dan mampu mengejar keadilan, ibadah, kese-tiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Amin.  (WM)

 

SELALULAH BERLAKU ADIL, SETIA, DAN RENDAH HATI

Ev.    Mika 6: 6-8

          Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah. Dipilih bukan karena jumlahnya banyak atau karena kebaikannya. Tetapi mereka dipilih karena Allah mengasihinya dan berkenan kepadanya. Bangsa pilihan Allah seharusnyalah tetap setia kepada Allah dan tidak melakukan dosa. Kenyataannya mereka sering jatuh ke dalam dosa, berlaku tidak adil. Keadilan diputarbalikkan dan diperjualbelikan. Penin-dasan sering terjadi di tengah-tengah masya-rakat. Mereka tidak setia kepada Allah. Mereka juga tidak rendah hati di hadapan Allah.

                Bagaimana dengan beribadah? Mereka membawa persem-bahan korban bakaran, hanya sekedar supaya tidak tangan hampa (Ul. 16:16). Menurut mereka, Allah berkenan akan persembahan mereka. Persembahan membuat hubungan yang baik antara mereka dengan Allah, dan akan membuat Allah tidak murka akan dosa-dosa mereka. Mereka memahami, makin banyak korban persembahan, makin baiklah hubungan mereka dengan Allah. Allah sebenarnya telah memberitahu yang baik yang dituntut Tuhan untuk mereka lakukan. Persembahan korban bakaran dengan motivasi yang benar tidak masalah, tetapi mereka dituntut berlaku adil, setia, dan rendah hati di hadapan Allah.

                Kita setiap melakukan kebaktian selalu memberikan persem-bahan. Masalahnya, apakah motivasi memberikannya benar? Misalnya: karena ketaatan kita kepada Allah; sebagai wujud memuliakan Tuhan; memberi karena kita sudah lebih dulu diberi. Janganlah memberi persembahan dengan motivasi yang salah. Misalnya, supaya dapat pahala. Memberi supaya aku diberi. Mempengaruhi kedaulatan Allah. Tetapi yang paling utama, kita dituntut Allah untuk berlaku adil, setia, dan rendah hati di hadapanNya.

Doa  :     Ya Allah! Ajarilah kami agar kami memberikan persem-bahan yang benar kepadaMu dan agar kami berlaku adil, setia,  dan rendah hatiu di hadapanMu. Amin. (WM)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.