Minggu, 28 Oktober 2018

Minggu Keduapuluhdua Sesudah Trinitatis

MENJADI YANG BERMURAH HATI

Ep. 2 Korintus 9:6-15

         Dr. Howard Kelly yang hidup tahun 1858-1943, sebelumnya adalah seorang anak miskin, yang berjualan dari rumah ke rumah untuk membiayai sekolahnya. Karena laparnya, padahal hanya memiliki uang satu sen, dia memberanikan diri mengetok sebuah rumah. Seorang perempuan membukakannya. Howard meminta segelas teh. Si perempuan masuk ke rumah, dan kembali dengan membawa segelas besar susu. Karena kuatir, Howard bertanya, berapa yang harus dia bayar untuk itu. Tetapi perempuan itu berkata: Tidak perlu membayar, karena ibuku melarang kami menerima balasan atas kebaikan yang kami lakukan. Howard menjawab: Dari segala ketulusan hatiku, aku mengucapkan terimakasih.

Beberapa puluh tahun kemudian, di Rumah Sakit, dimana Howard telah menjadi dokter spesialis, dia ditugaskan menangani seorang perempuan berpenyakit langka, yang adalah spesialisasinya. Ketika membaca nama kota asal perempuan itu, dan setelah melihat wajah si perempuan tersebut, Howard teringat dengan kejadian di atas. Dia bertekad akan merawat si ibu itu dengan segala kemampuannya. Benar, si ibu sembuh. Tetapi si ibu menjadi takut melihat “kuitansi pembayaran” yang jumlahnya sangat besar, dan tidak mungkin dapat dia bayar. Tetapi dia terkejut, karena di bawah angka tersebut, ada tertulis kalimat: Gratis, Telah dibayar lunas dengan segelas susu. Tertanda tangan dr Howard Kelly.

Itulah bukti bahwa memberi bagaikan menabur. Semakin banyak kita tabur, semakin banyak kita panen.  Tetapi sebaliknya, bila tidak menabur, benih yang di tangan itu juga akan hilang, artinya menjadi minus. Memberi tidak akan pernah membuat kita miskin tetapi justru akan menerima lagi semakin banyak dari tangan Tuhan yang memperhitungkan segala kebaikan kita.

Doa:       Ajarlah kami ya Tuhan agar menjadi pemurah seperti Engkau yang murah hati. Amin. (STPS)

 

IBADAH SEJATI

Ev.   Yesaya 58:4-12

        Apakah ibadah sejati? Rajin ke gereja, aktif di pelayanan dan memberi banyak persembahan memang sangat baik. Tetapi tidak cukup! Bacalah pasal 1:13 Kitab Yesaya ini, dimana untuk semua hal seperti itu Tuhan mengatakan: Aku jijik, Aku muak, tidak suka dengan ibadah, perayaan dan persembahanmu. Dan di Ayat 3 pasal ini Israel berkata: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?”  Apa yang diminta Tuhan dari kita?

Pertama, karena yang dilihat Tuhan adalah hati kita, apakah motivasi kita datang beribadah. Seharusnya hanya satu, yaitu menyembah dan memuji Tuhan melalui doa, nyanyian dan seluruh keberadaan kita. Dan, karena ibadah itu berarti budak, maka setiap orang yang datang beribadah harus merendahkan diri seperti seorang budak, mau membuang segala “kebesarannya” di hadapan Tuhan.

Kedua, ibadah sejati bukan hanya di gereja, tetapi harus diwujudkan di hidup keseharian kita. Jangan seperti Israel dalam nats ini. Rajin dan hebat beribadah di bait Allah. Tetapi di kesehariannya, hidup seperti orang tak beragama: korupsi, menindas, menjual barang palsu, memeras orang miskin, membelokkan keadilan, dan lain-lain.  Karena itu, di Ayat 6-7 dan 9-10, Tuhan mengatakan bahwa puasa atau ibadah sejati adalah, bila di keseharian kita mau membantu yang lemah, miskin, yang papa, yatim-piatu, janda miskin, korban ketidak-adilan, yang tertindas. Hanya kepada orang yang beribadah dalam keseha-riannya seperti itulah Tuhan berkenan, akan mendengarkan doa-doanya serta melimpakan berkat-berkatNya. Ibadah kita yang sejati adalah perbuatan baik kita kepada sesama dan setia kepada Tuhan.

Doa:       Ya Roh Kudus, ajarlah kami, agar beribadah kepadaMu dengan benar, dalam hidup keseharian kami, dengan mengasihi sesama kami. Amin. (STPS)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.