MELATIH DIRI UNTUK BERIBADAH

Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (1 Tim. 4:7-8)

Flp. 3:1b-3                    BE. 803:1                          Kel. 23:24-26

        Seorang pelayan Kristus harus melatih dirinya beribadah. Makna dari kata “ibadah” di sini lebih menunjuk pada arti cara hidup yang mencirikan kehidupan Kristen sejati; tidak sekadar apa yang dilakukan di dalam tempat ibadah. Gaya bahasa metafora “berlatih” diambil dari dunia olahraga, yang sangat populer pada masa itu. Para atlet giat berlatih menjelang pertandingan.

Beribadah berarti giat menyatakan kasih Allah kepada semua orang. Merenungkan firman dengan teratur dan disiplin dalam latihan rohani untuk bertumbuh dalam kasih kepada Allah. Timotius harus “menjadi teladan” bagi orang percaya, baik dalam perkataan maupun perilakunya , khususnya dalam kasih, iman, kesetiaan, dan kesucian, dan penguasaan diri. Yang dimaksudkan dengan ibadah atau kesalehan adalah ketaatan melaksanakan Injil di dalam seluruh bidang kehidupan. Itu menunjukkan suatu landasan hidup yang benar, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun hidup yang akan datang. Ungkapan ini merupakan inti dasar dalam teologi eskatologi Paulus.

Menjadi Kristen berarti menjadi pelayan yang giat dan taat bagi Kristus. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus: “Aku menasehatkan kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membe-dakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah yang sempurna” ( Roma 12 : 1 – 2 )

Doa  :     Ajar dan bimbinglah kami Tuhan untuk beribadah yang benar hanya kepadaMu. Amin. (TS)