Minggu 21 Oktober 2018

Minggu Keduapuluhsatu Setelah Trinitatis

IBADAH YANG SEJATI

Ep.   Yosua 24:14-24

  Kesetiaan dalam iman kepada Tuhan adalah pilar ibadah sejati, tanpa itu ibadah hanya merupakan ritual yang tidak memiliki kekuatan spiritual untuk memberikan tuntunan hidup agar lebih mengenal Tuhan dan kehendakNya, melainkan sekedar gerak dan lagu untuk memenuhi kewajiban agama yang nominal.

Perikop ini adalah bagian kedua dari kata-kata perpisahan Yosua sebagai pemimpin pada hari-hari akhir hidupnya. Bagian pertama kata perpisahan Yosua (Yos. 24:1-13) ditujukan kepada para penggantinya agar menyadari bahwa mereka menguasai Kanaan dan mempunyai hak milik di sana karena Tuhan. Yoshua mengingatkan pemimpin-pemimpin Israel untuk menjunjung iman kepada Tuhan. Bagian kedua, yaitu nats hari ini, ditujukan kepada seluruh Bangsa Israel agar beribadah dengan tulus ikhlas dan setia kepada Tuhan yang menyelamatkan mereka  dan membawa mereka keluar dari Mesir serta menganugerahkan milik pusaka di Kanaan.

Yang disampaikan Joshua ini adalah Ilmu Kepemimpinan (Leadership) menjelaskan tugas-tugas utama pemimpin. Pertama, regenerasi kepemimpinan berlandaskan kriteria dasar yang ditetapkan. Kedua, coaching: memberi arahan atau tuntunan kepada yang dipimpinnya. Ketiga, menjadi teladan melakukan apa yang dicana-ngkannya. Demikianlah sebagai pemimpin bangsa dan imam keluar-ganya. Yosua menyiapkan penggantinya berlandaskan kriteria memimpin Bangsa Israel yaitu Firman Tuhan. Secara langsung Yosua mengingatkan dan memberi teladan keluarga kepada Bangsa Israel yang dipimpinnya, agar teguh berkomitmen untuk beribadah kepada Tuhan karena Yosua percaya bahwa ibadah yang sejati yang akan  menuntun kepada keselamatan dan penyertaan Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, Allah Bapa dalam Yesus Kristus, teguhkanlah kesetiaan kami kepadaMu saja, agar ibadah kami layak di hadapanMu. Amin. (BDFS)

 

IBADAH YANG SEJATI

Ev.   Roma 12:1-3

                Pandangan Kristiani tentang tubuh sebagai persembahan yang hidup dan kudus dan yang berkenan kepada Allah merupakan suatu hal yang khas dibandingkan pandangan agama-agama lain. Menganut kehidupan kudus adalah ibadah yang sejati yang berkenan bagi Allah. Persembahan yang hidup dimaksud adalah termasuk pembaharuan budi, untuk mampu membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Prinsip dasar hidup Kristiani adalah memper-sembahkan diri dan berbakti kepada Tuhan dengan merujuk citra Allah Trinitas yang dinyatakan dalam Yesus Kristus.

Selanjutnya, Paulus mengingatkan orang percaya bahwa karunia talenta yang diberikan kepada masing-masing harus digunakan dalam rendah hati. Janganlah kompetensi sebagai citra Allah membuat sombong dan merasa hebat. Tekunlah berkontribusi yang terbaik dalam keluarga, gereja dan masyarakat sampai keujung dunia, dengan kesadaran iman yang konsisten agar tidak terjerumus kedalam kecongkakan. Selalu berpijak kepada hikmat dalam Roh Kudus bahwa hidup dan talenta adalah karunia Allah Bapa dalam Yesus Kristus berlandaskan kehendak Allah kepada tiap pribadi.

Kita harus menguasai diri menurut ukuran iman agar sanggup mengalami potensi kuasa Tuhan dalam diri sendiri. Bersamaan dengan itu potensi kuasa Tuhan dalam diri kita pun nyata, sehingga secara bersama-sama, semua orang percaya membentuk persekutuan dalam saling ketergantungan dan saling menghargai sebagai satu tubuh Kristus yang memancarkan kemuliaaan Allah dalam pengutusan orang percaya.  Itulah esensi keberadaan ibadah Kristiani, setiap kita adalah gereja dan secara bersama-sama menjadi persekutuan tubuh Kristus.

DOA  :  Tuhan, curahkan Roh KudusMu atas kami agar kami sebagai gerejaMu berhikmat dalam rendah hati sebagai satu Tubuh Kristus beribadah kepadaMu. Amin. (BDFS)

About the author: bksmarturia

2 comments to “Minggu 21 Oktober 2018”

You can leave a reply or Trackback this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published.