MEMAHAMI KITAB SUCI DAN KUASA ALLAH

Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! (Matius 22:29)

Kis. 17:1-11                              BE. 826:3                               Ul.  30:1-10

         Injil Matius adalah Injil yang merupakan wahyu Allah kepada manusia untuk menyatakan dirinNya. Injil Matius adalah Injil yang narasi pada umumnya lebih ringkas, dan memiliki struktur yang baik. Injil Matius selain rujukan kepada Perjanjian Lama yakni juga mengutip Ibrani yang semuanya didahului oleh rumusan “Dengan demikian genaplah Firman“ .

Hukum Yahudi mempunyai suatu lembaga yang disebut perkawinan levirate. Peraturan-peraturan tersebut dinyatakan  dalam Ulangan 25:5-10. Pertanyaan orang-orang Saduki sebetulnya hanyalah: Apabila seseorang perempuan, sesuai dengan peraturan perkawianan levirate, telah menikah secara bergiliran dengan tujuh orang bersau-dara, jika memang ada kebangkitan orang mati, istri siapakah perempuan ini jika kebangkitan itu terjadi? Mereka  mengira bahwa dengan mengemukakan pertanyaan ini, mereka berhasil membuat gagasan tentang kebangkitan itu menjadi sesuatu yang menggelikan.

Jawaban Yesus mengingatkan bahwa mereka telah sesat, sebab mereka tidak mengerti Kitab Suci dan kuasa Allah. Mereka percaya kebangkitan, jika para leluhur mereka terbukti hidup kembali seperti kehidupan mereka saat itu. Mereka belum dapat memahami bahwa kebangkitan kembali itu akan terjadi bagi orang-orang percaya. ”Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia ( 1 Tes. 4: 14). Pada kebangkitan, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, mela-inkan hidup seperti malaikat di sorga (Ayat 30).

Doa  :     Tuhan berilah kami Roh Kudus supaya kami memahami Kitab Suci dan kuasaMu, bahwa pada kedatangan Yesus kedua kalinya kami akan dibangkitkan. Amin. (LPH)