Minggu, 7 Oktober 2018

Minggu Kesembilanbelas Setelah Trinitatis

KITA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN ALLAH

Ep.   Keluaran 4:10-17

         Salah satu tindakan Allah yang luarbiasa dalam medan sejarah adalah mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Tindakan Allah ini karena Allah mengasihi bangsa Israel, umat pilihanNya yang menderita, dan tertindas di Mesir. Allah mendengar tangisan,  dan teriakan umatNya (Kel. 2:23-25). Allah memanggil Musa sebagai utusanNya untuk mengeksekusi rencana Allah. Kenapa Musa? Itu hak prerogatif Allah (Kel. 3:10).

Apakah Musa langsung menerimanya? Tidak. Kesediaan seseorang menjadi utusan Allah selalu melalui suatu proses. Beberapa alasan Musa untuk menolak  pemanggilannya. Pertama: Siapakah aku ini? Musa merasa tidak mampu. Allah menjawab, Aku akan menyer-taimu (Kel. 3:11-12).  Kedua; Aku tidak pandai bicara (Ayat 10). Allah menjawab; Aku  akan mengajarmu bicara. Ketiga; Utuslah Tuhan yang lain yang patut Kau utus. Allah menjadi marah kepada Musa. Allah tetap menginginkan Musa. Allah juga menjadikan tongkat Musa sebagai tongkat pembuat mujizat. Musa akhirnya menerima panggilan Allah dengan kembalinya dia ke Mesir untuk mengeksekusi rencana Allah mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.

Kini di dunia ada bentuk perbudakan lain, yaitu diperbudak oleh dosa. Melakukan dosa dalam bentuk pembunuhan, perkosaan, perampokan, pancurian, korupsi, penipuan, perkelahian, intoleransi, dan sebagainya. Sebagian dari mereka adalah orang Kristen. Gerja dan  jemaatnya dipanggil Allah sebagai utusanNya untuk menyelamatkan masyarakat dari perbudakan dosa tersebut. Tugas ini tidak mudah tetapi mulia. Jangan ditolak tetapi terimalah panggilan itu. Berbuatlah sesuatu dengan iman Kristen untuk diri sendiri dan orang lain agar lepas dari perbudakan dosa tersebut.

Doa  :     Ya Tuhan!  Berikanlah kami kekuatan dan  kemampuan sebagai utusanMu di tengah-tengah masyarakat untuk melepaskan mereka dari perbudakan dosa. Amin.   (WM)

 

BERITAKANLAH FIRMAN ALLAH

Ev.    2 Timotius 4:1-5

         Beritakanlah Firman Allah. Ini tugas yang diberikan Paulus kepada Timotius. Tugas ini cukup berat. Kenapa? (1) Firman Allah harus diberitakan pada setiap waktu dan di setiap tempat. Apakah waktunya tepat atau tidak, tempatnya tepat atau tidak. Yang penting Firman Allah sampai kepada pendengarnya. (2) Harus berani menyampaikan kesalahan para pendengarnya. Bukan menutup-nutupinya. Tujuannya, agar pendengarnya mengetahui kesalahannya (dosa-dosanya), sehingga dia bertobat dan memperoleh keselamatan. (3) Memberitakan Firman Allah harus dengan pengajaran dan kesabaran. Dengan demikian pendengar mengetahui dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah.

Paulus juga menasehati Timotius agar menguasai dirinya agar: (1)  Tidak emosional dan temperamental, tidak mudah tersinggung, dan ramah. (2) Sabar menderita karena dalam pemberitaan Firman Allah akan menghadapi banyak tantangan, hambatan, yang berujung pada penderitaan. (3) Menunaikan tugas pelayanannya dengan tuntas, tidak setengah-setengah, tidak berhenti di tengah jalan, serius, tanpa kekuatiran akan akibat-akibatnya.

Apakah tugas pemberitaan Firman Allah hanya kepada Paulus dan Timotius? Apakah pada masa kini hanya tugas pendeta, guru evangelis, penatua, dan diaken? Tidak. Pemberitaan Firman Allah adalah tugas semua orang percaya tanpa kecuali. Kita dipanggil untuk memberitakan Firman Allah (Mat. 28:19-20). Tugas ini tidak dapat ditolak. Tugas ini mengandung ancaman dan konsekuensi bila tidak dilaksanakan, baik hukuman atas ketidaktaatan kita, ataupun ancaman terhadap manusia berdosa sebagai obyek pemberitaan Firman Allah yang akan binasa bila tidak dirampas dari maut (Yudas 22-23).

Doa  :     Tuhan, ajar dan kuatkanlah kami untuk memberitakan FirmanMu kepada banyak orang setiap waktu dan di setiap tempat. Amin. (WM)

About the author: bksmarturia

Has one comment to “Minggu, 7 Oktober 2018”

You can leave a reply or Trackback this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published.