Minggu Ketujuhbelas Setelah Trinitatis

HARUS MENEGAKKAN KEADILAN

Ep.   Ulangan 16:18-20

          Pada awalnya, segala keputusan diambil atau disampaikan hanya melalui Musa, sehingga habislah waktu Musa dari pagi sampai petang untuk mengadili perkara Bangsa itu. Melihat itu, Yetro, mertua Musa, menyarankan Musa memilih wakil masing-masing suku Bangsa itu yang cakap dan takut akan Tuhan untuk menyelesaikan perkara-perkara yang kecil sebagai pemimpin 10 orang, 50 orang, 100 orang dan 1000 orang. Dengan demikian, Musa berperan sebagai hakim kepala, sedangkan para hakim lain yang terdiri dari orang-orang pilihan tiap suku bertugas menangani kasus-kasus yang biasa.

Pengaturan di padang gurun seperti itu berlanjut ke Tanah Kanaan. Suku-suku Israel diizinkan mengangkat hakim-hakim dan petugas untuk membantu mengadili bangsanya. Mereka harus adil, mengejar keadilan, tidak memihak, dan tidak menerima suap. Apabila para hakim dan petugas itu tidak mampu memutuskan karena perkara terlalu rumit, maka mereka harus meminta putusan dari imam-imam dan orang-orang Lewi yang ada. Keputusan itu harus mereka ikuti dan tidak boleh menyimpang (Ul. 17: 8-11). Hukuman atas pelanggaran harus dilaksanakan, supaya setiap orang menjadi takut dan tidak berani melakukan hal yang seperti itu (Ul. 17: 13).

Dari nats ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, pertama, kita harus memilih pemimpin yang dapat dipercaya, sungguh-sungguh takut akan Tuhan, jujur dan benci terhadap suap. Kedua, setiap orang yang dipercaya untuk memimpin harus menyadari kemampuan dan keterbatasannya, dan oleh sebab itu rela berbagi tugas. Ketiga, pemimpin jangan bertindak dan mengambil keputusan yang tidak adil, salah atau menyimpang. Untuk itu, mintalah selalu hikmat Tuhan dan bimbingan Roh Kudus. 

Doa  :     Tuhan, berikanlah hikmat kepada para pemimpin kami di ligkungan Gereja dan bangsama kami, supaya mereka sungguh-sungguh menegakkan keadilan. Amin. (TS)

 

HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG

Ev.   Efesus 5:1-10

           Paulus mengingatkan jemaat Efesus bahwa mereka adalah anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah harus hidup dalam terang Kristus, yang hanya membuahkan kebaikan dan kebenaran. Sebagai anak-anak Allah dan anak-anak terang harus berani tampil beda dalam kehidupannya. Tujuannya adalah agar mereka menjadi berbeda dengan orang di luar Kristus. Oleh karena itu Paulus memberikan beberapa penekanan, yaitu: Pertama, moralitas bagi kehidupan orang Kristen, di antaranya tidak berkata dusta, mampu mengendalikan diri dalam keadaan marah, tidak emosional, dan menjaga tutur kata sehingga tidak berkata kotor.

Kedua, landasan kehidupan yang telah diletakkan oleh Kristus, yaitu kasihNya yang dalam untuk menyelamatkan umatNya dari hukuman maut, sehingga Ia rela menyerahkan diri sebagai persem-bahan kurban yang harum bagi Allah (Ayat 2). Paulus menegaskan agar jemaat mempraktikkan pola kasih Kristus ini dalam kehidupan mereka, bukan saja sebagai suatu keharusan tetapi juga sebagai tanda atau bentuk keunikan dalam kehidupan Kristen. Orang Kristen harus mampu mempraktekkan prinsip mengasihi dan mengampuni menela-dani Tuhan Yesus. Karena Kristus telah melakukannya untuk kita, maka kita pun terpanggil dan dimampukan melakukan seperti itu.

Karena itu ada hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang-orang percaya, yaitu percabulan, kecemaran, keserakahan, dan perka-taan kotor (Ayat 3). Jangankan untuk dilakukan, untuk dibicarakan saja tidak pantas! Topik-topik semacam itu bukanlah objek yang pantas untuk dijadikan bahan obrolan oleh orang-orang tebusan Kristus. Semua itu harus dihindari, karena sebagai anak-anak terang kita harus menjaga diri kita kudus dan hidup dalam kekudusan.

 Doa  :     Terima kasih Tuhan telah memilih kami menjadi anak-anakMu. Mampukanlah kami tampil beda sebagai anak-anak terang di setiap waktu dan tempat. Amin. (TS)