Minggu Keenambelas Setelah Trinitatis

BERSATU DI DALAM KRISTUS

Ep.    Filipi 2: 1-11

        Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi supaya bersatu di dalam Kristus, karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Setiap orang Kristen harus meneladani Kristus dan mengikuti jejak hidupNya, sehingga menjadi serupa dengan Dia. Untuk itu, kita diminta melakukan 3 hal. Pertama, kita harus sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Kedua, jangan ada yang mencari kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (Ayat 2-3).

Ketiga, setiap orang harus merendahkan hati terhadap orang lain, memandang orang lain lebih utama dari diri sendiri, seperti Yesus yang mau mengosongkan diriNya dan rela mengambil rupa seorang hamba dan sama dengan manusia serta taat sampai mati (Ayat 3b-6). Yesus Kristus adalah pribadi yang rendah hati.  Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.  Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak semata-mata memikirkan dirinya sendiri atau mencari pujian bagi diri sendiri. Orang yang rendah hati adalah orang yang rela melayani karena menyadari, bahwa dirinya adalah hamba.

Dengan sehati sepikir, kita dapat menghindari timbulnya perpecahan dalam persatuan kita. Demikian juga dengan menghindari penonjolan kepentingan diri sendiri, tidak ada orang yang merasa dirugikan atau merasa kepentingannya terganggu. Dengan rela meren-dahkan hati dan berhati hamba berarti terpanggil meneladani Tuhan Yesus untuk melayani. Dengan ringan tangan melayani orang lain, tidak berarti status atau posisi kita menjadi turun, justru sangat terhormat di mata Tuhan Yesus. Inilah pernyataan Paulus: “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah”  (1 Kor. 4:1).

Doa :      Tuhan, ajar kami untuk sehati sepikir, menjauhkan sikap mementingan diri sendiri, dan rela saling melayani, supaya kami tetap bersatu di dalam Kristus. Amin. (LasN)

 

 MEMPEDULIKAN SESAMA

Ev.     Rut 2:8-16

         Rut  berasal dari suku Moab, lahir  dari hubungan Lot dengan putri tertuanya. Namun Tuhan mengubahnya menjadi wanita yang terhormat dan hidup berkelimpahan. Rut menikah dengan Mahlon, anak Naomi dan suaminya Elimelekh. Kemudian Elimelekh meninggal, dan sepuluh tahun kemudian meninggal pula kedua anaknya Mahlon dan Kilyon. Namun Rut tidak kembali ke orangtuanya; ia tetap bertahan mengikuti Naomi, bahkan ikut ke kampung halaman Naomi ke Betlehem. Kepada mertuanya Naomi, Rut berkata: ”Kemana engkau pergi, kesitulah aku pergi; bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku”. Suatu keputusan dan komitmen yang luar biasa dari Rut.

Rut tidak mau berpisah dari Naomi, karena Rut mencintainya, mengasihi Naomi dan Allahnya, walaupun Rut harus mendampingi mertuanya, Naomi, yang miskin dan tidak punya apa-apa di Betlehem. Untuk memenuhi kehidupan mereka, Rut harus bekerja keras memungut bulir-bulir jelai di tempat orang kaya, yang kebetulan yang bermurah hati bernama Boas, masih mempunyai hubungan famili dengan suaminya kaum Elimelekh.  Keuletan Rut itu menarik perhatian Boas. Perhatian  Boas meluas, mulai dari memberikan izin, menjanjikan perlindungan khusus, sampai makan roti bersama karyawannya, bahkan ia pun diizinkan membawa roti untuk Naomi. Boas sungguh mengagumi kebaikan hati Rut kepada mertuanya Naomi.

Rut sebagai pekerja yang ulet memanfaatkan dengan baik kepedulian dan kesempatan yang diberikan oleh Boas untuk mengumpulkan gandum. Dari nats ini kita dapat belajar 3 hal. Pertama, dari komitmen Rut mengikuti mertuanya dan Allahnya. Kedua, dari sikap Boas dan Rut yang mempedulikan sesama. Ketiga, dari keuletan Rut memanfaatkan kesempatan yang tersedia padanya.

Doa  :     Bentuklah kami Tuhan menjadi umatMu yang setia mengikut Engkau dan saling peduli kepada sesama kami manusia. Amin. (LasN)