Minggu, 2 September 2018

Minggu Keempatbelas Setelah Trinitatis

BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Ep.  Kisah Para Rasul 28:1-10

        Di dalam perjalanan Rasul Paulus menuju Roma untuk bertemu Kaisar menyampaikan banding perkaranya karena Injil, dia mengalami banyak sekali pergumulan termasuk yang terakhir terkatung-katung di laut bebas karena dilanda badai. Saat semua penumpang kapal putus asa, Paulus  menguatkan hati mereka dengan  mengatakan tidak ada seorangpun dari antara mereka yang celaka. Setelah itu mereka kandas di Pulau Malta.

Apa yang dialami Rasul Paulus selama di Pulau Malta juga tidak kurang menegangkan yang akhirnya menjadi pujian bagi nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus memungut ranting untuk ditaruh di atas api, dia digigit ular beludak. Tapi Tuhan menjagainya, dia tidak apa-apa. Paulus terus memberitakan Injil dan melakukan segala yang baik kepada masyarakat di Pulau Malta. Dengan kuasa Tuhan, Paulus menyembuhkan banyak orang sakit. Tuhan membuat Gubernur Pulau itu sangat baik dan menghormati mereka. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Di saat mereka akan melanjutkan perjalanan ke Roma, penduduk Malta sangat bermurah hati menyediakan segala sesuatu yang mereka perlukan dalam perjalanan.

Kita semua sudah menerima begitu banyak kemurahan di dalam hidup kita. Kita menerima keselamatan dengan cuma-cuma. Kita menerima kehidupan jasmani termasuk kesehatan yang luar biasa. Kalau kita hitung-hitung hari-hari kita bukankah ajaib sekali kemurahan Tuhan yang sudah kita terima? Kita yang sudah menerima begitu banyak kemurahan Tuhan, dapat belajar kepada masyarakat di Pulau Malta; kita juga patut dengan sukacita menjadi saluran berkat bagi para pemberita Injil, bagi para hamba Tuhan, serta bagi orang lain yang membutuhkan, sehingga nama Yesus dipermuliakan.

Doa  :     Tuhan, ajar dan tolong kami yang telah menerima kelim-pahan kemurahan dan berkatMu untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Amin. (RP)

 

BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Ev.    1 Rajaraja 17-7-16

          Tuhan menyuruh nabi Elia pindah dari sungai Kerit ke Sarfat di Sidon di luar Israel setelah air sungai Kerit kering. Daerah Sarfat juga ikut menderita kekeringan seperti yang dialami Israel. Di daerah Sarfat inilah Tuhan telah memerintahkan seorang janda untuk memberi nabi Elia makan. Janda di Sarfat ini bukan orang berada tetapi orang yang berkekurangan.

Dari dialog nabi Elia dengan janda miskin Sarfat ini di pintu kota saat perempuan itu mencari kayu api, dapat kita pahami bahwa perempuan itu sangat miskin. Saat nabi Elia meminta baginya sedikit air dan sepotong roti, maka jawaban perempuan itu ialah “Demi Tuhan Allahmu yang hidup sesungguhnya tidak ada roti padaku kecuali segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli”. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudia aku akan pulang dan mengolahnya bagiku dan anakku dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati. Tetapi Elia berkata “Jangan takut pulanglah, buatlah seperti yang kau katakan tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya dan bawalah kepadaku, kemudian barulah buat bagimu dan anakmu. Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas bumi. Lalu perempuan itu berbuat seperti yang dikatakan Elia”. Lalu firman Tuhan yang dikatakan Elia terbukti, tepung tidak habis dan minyak tidak berkurang.

Melalui nats ini kita diajar, memang mengikut Yesus bukan menggunakan akal tetapi menggunakan iman. Tuhan Yesus sanggup mencukupkan segala kebutuhan kita dalam situasi apapun asal kita beriman. Bagi Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil.

 Doa  :     Tuhan ajar kami untuk selalu mengandalkan iman dalam hidup kami ini, karena bagi orang beriman tidak ada yang mustahil. Amin. (RP)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.