Minggu Kesebelas Setelah Trinitatis

MEMBANGUN PERSAUDARAAN YANG RUKUN

Ep.   Mazmur 133: 1-3

         Mazmur 133 ini merupakan nyanyian ziarah Daud yang menyatakan bahwa persaudaraan yang rukun sangat baik dan sangat indah. Pemazmur memberi kiasan persaudaraan yang rukun dengan  minyak dan embun yang menyegarkan, yang disamakan dengan berkat. Persaudaraan yang rukun tidak mudah dibangun. Persaudaraan yang rukun harus dibangun secara terus-menerus agar bertumbuh dengan baik. Dia tidak bisa dipaksa atau terpaksa. Dia harus diikat oleh kasih untuk saling mengasihi.

Setiap yang bersaudara harus bekerjasama, saling membantu dan saling menolong dalam mengerjakan sesuatu, saling memikul beban, agar hasilnya optimal. Bagaimana bila persaudaraan itu tidak rukun ? Tentu bisa terjadi konflik. Konflik banyak terjadi di antara orang yang bersaudara. Kalau bersama saudaranya saja tidak rukun, bagaimana mungkin dia bisa rukun dengan orang lain ?

Di zaman modern ini semakin jarang ditemui persaudaraan yang rukun. Banyak keluarga yang dirundung konflik atau perselisihan. Konflik yang banyak terjadi adalah konflik antara orang yang bersaudara, antara orangtua dengan anak, antara suami dan istri. Gangguan kerukunan itu terjadi biasanya bila masing-masing menonjolkan egoisme mementingkan diri sendiri, kasih yang semakin menipis dan atau masing-masing tidak memahami dan tidak melakukan fungsinya dalam kelompok. Itu sebabnya Rasul Paulus menasihatkan semua istri tunduk pada suami, suami mengasihi istri, anak-anak menaati orangtua, bapa-bapa tidak menyakiti hati anak-anaknya dan hamba menaati tuannya (Kol.3: 18-22); semuanya dengan sikap saling mamahami, saling mengasihi, saling menerima, saling menghargai, untuk membangun keluarga atau persaudaraan yang rukun.

Doa  :     Tuhan, ajarilah kami untuk saling memahami, saling mengasihi, saling menerima dan saling menghargai untuk membangun persaudaraan yang rukun. Amin. (WM)

 

KASIH SEBAGAI PENGIKAT YANG MEMPERSATUKAN

Ev.   Kolose 3: 12-14

            Paulus bukanlah pendiri jemaat Kolose. Dia memang tidak pernah berkunjung ke sana. Namun dia sangat memperhatikan jemaat Kolose. Itu sebabnya, Paulus mengirim surat penggembalaan ke jemaat Kolose. Sebagian besar warga  jemaat Kolese bukanlah orang  Yahudi. Di jemaat ada masalah bidat Gnostik yang merusak persatuan jemaat. Menurut Paulus, menjadi Kristen yang benar dapat dilihat dari perobahan total kepribadiannya. Perobahan tersebut bersifat progresif. Karena itu, Paulus meminta warga jemaat agar menanggalkan manusia lama, yaitu manusia duniawi yang mengutamakan hal-hal duniawi dan mengenakan manusia baru, yaitu manusia roh atau manusia sorgawi yang mengutamakan hal-hal  sorgawi.

Tujuannya adalah untuk menghancurkan tembok-tembok pemisah yang merusak persatuan jemaat. Tembok pemisah bisa dalam bentuk perbedaan etnis, bangsa, bahasa, status sosial, tata ibadah, atau acara keagamaan. Untuk mengatasi itu, setiap warga jemaat haruslah merupakan pribadi yang mempunyai kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Setiap warga jemaat haruslah mempunyai kasih sebagai pengikat yang mempersatukan.

Pada masa kini, ada kecenderungan setiap orang ingin berpisah atau memisahkan diri, membangun tembok-tembok pemisah yang merusak persatuan. Seharusnya kita sudah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Jadilah kita orang Kristen yang benar, yang dipilih Allah. Kita harus menghancurkan tembok-tembok pemisah yang merusak persatuan. Yesus menghendaki persatuan (Yoh. 17:21). Tetapi ingatlah semuanya itu hanya dapat dicapai bila kasih sebagai pengikat mempersatukan kita.

Doa  :     Ya Allah! Berikanlah  kami kekuatan, agar mampu merobohkan tembok-tembok pemisah yang merusak persatuan kami.  Amin. (WM)