DAMAI SEJAHTERA ALLAH MENGISI HATI KITA

Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu (Amsal 27:19)

Kej. 8:21-22                                BE. 262:4                   Yes. 48:20-22

          Nats ini menggambarkan perilaku manusia yang dipengaruhi oleh perasaan hati. Dikatakan: “demikianlah hati manusia mencer-minkan manusia itu. Cermin pada zaman dahulu adalah air. Dengan adanya genangan air di wadah piring ataupun di kolam maka kita dapat bercermin melihat wajah kita. Itulah yang dimaksudkan seperti air mencerminkan wajah.

                Kata-kata dalam buku Amsal memiliki tujuan ganda ”agar orang mengetahui hikmat dan disiplin” (Amsal 1:2). Kata-kata itu membantu kita mendapatkan hikmat, yaitu kesanggupan melihat segala sesuatu dengan jelas dan menggunakan pengetahuan untuk mengatasi problem yang ada dalam hidup. Melalui hikmat, kita juga menerima disiplin, atau pelatihan moral. Dengan memperhatikan peribahasa-peribahasa itu dan mengindahkan nasihatnya, hati kita dapat digugah, kebahagiaan kita bisa bertambah, dan keberhasilan bisa dicapai.

                Dikatakan bahwa hati manusia mencerminkan wajah manusia. Kata Yesus, hati manusia dikuasai oleh kejahatan; kejahatan ini akan menampilkan wajah yang dikuasai oleh segala pikiran jahat, kesera-kahan, kelicikan, iri hati, dan kesombongan ( Markus 7: 21-22). Itulah kondisi manusia dalam dosa. Untuk mengatasi keadaan itu, firman Tuhan berkata: “Bahwa kita harus mencabut akar-kejahatan itu dari dalam hati kita (Kolose 2:11); dan itulah yang harus kita lakukan sebagai anak-anak Tuhan setiap hari, mencabut akar kejahatan yang melekat di hati kita agar hati kita dikuasai oleh damai sejahtera Allah. Dengan hati dan wajah ini maka kita akan disukai oleh banyak orang dan menjadi surat Kristus yang terbuka yang dapat dibaca.

Doa : Bapa, cabutlah akar dosa yang melekat di hatiku dan biarlah damai sejahteraMu mengisi hati dan pemikiranku, supaya hidupku berkenan di hadapanMu. Amin. (TSH)