Minggu Rogate

BERDOALAH DI DALAM IMAN

Ep.   Yakobus 1:2-8

          Pasti pernah melihat tukang mas memanasi emas hingga cair. Sangat menyakitkan. Tetapi sesudah itu, emasnya menjadi semakin murni, karena kotorannya sudah terbuang. Demikian Tuhan sering memberi kita pencobaan. Pada saat itu, rasanya sakit sekali. Tetapi, tujuan Allah adalah agar kita semakin kuat dalam iman. Pencobaan yang diizinkan oleh Tuhan adalah seperti latihan yang keras dan ketat bagi para tentara. Sehingga ketika menghadapi perang, mereka sudah kuat, dan tidak kalah. Pencobaan membentuk kita menjadi manusia yang tekun, sempurna dan utuh (Ayat 3-4).

Yang perlu kita lakukan menghadapi pencobaan adalah terus berdoa kepada Tuhan yang akan memberikan apa yang kita perlukan. Tuhan melalui Roh Kudus akan memberikan kepada kita kebijakan dan kekuatan, bahkan membimbing kita melakukan langkah-langkah mengatasi pencobaan tersebut, sehingga kita dapat tampil sebagai pemenang dengan rasa sukacita dan ucapan syukur.

Kita berdoa bukan hanya sekedar saja. Tetapi harus percaya; tidak boleh ragu-ragu. Sebab orang yang ragu-ragu adalah seperti ombak di laut yang ditiup angin ke sana ke mari (Ayat 6-8). Harus percaya, bahwa apa yang diharapkan sudah diberi dan sudah ada walau belum kita lihat. Tuhan Yesus berkata: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11:24). Berdoa dengan mendua hati tidak akan berguna, bahkan berbahaya. Jangan berdoa tetapi juga mengandalkan kuasa lain. Berdoalah dan serahkan segala sesuatu bagi Tuhan, dan membiarkan Tuhan melakukan rencanaNya atas kita. Karena kita percaya bahwa rencana Tuhan atas kita, itu pasti yang terbaik.

Doa:       Ya Tuhan, bila aku menghadapi pencobaan, biarlah aku pasrah di dalam doa kepadaMu, karena Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagiku. Amin. (STPS)

 

TETAPLAH BERDOA

Ev.   Keluaran 32:7-14

 John Smith, anak remaja berusia 14 tahun tenggelam di danau Saint Louise, dan dokter menyatakan dia sudah meninggal. Padahal, ibunya, Joyce, sudah menunggu kehadiran John, anak yang dia adopsi itu selama 17 tahun. Ketika dia mengetahui kejadian itu, dia percaya bahwa Tuhan tidak mungkin mengecewakannya (2 Rajaraja 4:8). Ketika dia tiba di rumah sakit, dia bukannya menangisi anaknya, tetapi berdoa di atas tubuh anaknya yang sudah kaku. Apa yang terjadi kemudian? Sebuah keajaiban terjadi. Anak itu hidup dan sehat kembali. Itulah kuasa doa. Karena itu jangan pernah abaikan hidup dalam doa. Karena dengan doa kita mengkontakkan diri kita kepada Allah, sehingga seluruh kuasaNya mengalir kepada kita.

Demikian halnya dengan doa syafaat (intercession), yaitu ketika kita berdoa kepada Tuhan tentang orang atau hal lain  yang bukan diri kita, menggantikan posisi orang lain untuk memohon kepada Tuhan. Kuasanya luar biasa. Seperti dilakukan Musa di nats ini. Sebelumnya, Israel berdosa karena membuat patung lembu emas untuk disembah. Allah murka dan akan membinasakan mereka (Ayat 10). Tetapi, itulah kehebatan Musa sebagai pemimpin, dia berdoa syafaat, menggantikan posisi umat Israel yang akan dibinasakan, memohon kasih karunia Allah, agar Tuhan tidak membinasakan Isreal. Musa bahkan mau mengorbankan dirinya sendiri demi umatnya (Ayat 11). Dan benar, hati Tuhan menjadi lunak, dan mengubah keputu-sanNya (Ayat 14). Israel luput dari kebinasaan, karena ada Musa, yang mau berdoa syafaat bagi mereka.

Sebab itu marilah kita berdoa syafaat bagi orang lain, bagi para majelis dan pimpinan Gereja kita, serta bagi para pimpinan negara ini agar Tuhan menyelamatkan dan membantu mereka.

 Doa:       Ya Tuhan, aku mau berdoa syafaat bagi orang lain, bagi para majelis Gereja kami dan pimpinan negara kami, supaya Tuhan membantu mereka. Amin. (STPS)