Jumat, 27 April 2018

BERSUKACITA DAN MEMULIAKAN ALLAH

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! (Wahyu 19: 7a)

Luk. 9:22-26                             BE. 125:1-2                             Kej. 41:37-42

            Dalam pesta perkawinan selalu ada suasana sukacita dan ucapan syukur. Ucapan para undangan selalu mengatakan “selamat berbahagia”. Allah memakai pernikahan sebagai sebuah metafora untuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Pengantin wanita adalah gereja, di dalamnya umat Allah yang telah ditebus yang dikaruniakan kain lenan, yaitu perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus (Ayat 8).

Pasangan pengantin memiliki hubungan yang intim. Demikian juga Allah selalu menghendaki hubungan yang intim dengan umat kepunyaanNya. Tuhan menggambarkan keintiman relasiNya dengan umatNya seperti hubungan antara suami dan istri. Relasi yang intim ini disertai dengan perbuatan-perbuatan untuk menunjukkan kecintaan pasangan satu dengan yang lainnya.  Sang Anak Domba telah memberikan nyawaNya untuk menebus mempelai wanitaNya sebagai bukti cinta kasihNya. Sang pengantin wanita, yaitu umat Tuhan mengenakan kain lenan yaitu melakukan perbuatan benar, tindakan iman, sukacita di dalam melayani. Perbuatan-perbuatan tersebut antara lain adalah memperhatikan kebutuhan sesama yang berkekurangan, memberi pertolongan, memperjuangkan keadilan sosial, melayani Tuhan di gereja, menginjili, bersekutu dan berdiakonia.

Dalam suasana perayaan inilah kita bersukacita, bersorak sorai karena kita umat Allah yang ditebus dikarunia keselamatan. Pesta perkawinan pada kitab Wahyu ini menggambarkan peristiwa akhir zaman, yaitu perkawinan Yesus dengan gerejaNya. Hanya Tuhanlah yang layak menerima pujian.  “Haleluya!” (Ayat 6).

Doa:     Kami bersukacita dan memuliakanMu Tuhan yang telah mengaruniakan keselamatan bagi kami umatMu di dalam Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. (DSim)

About the author: bksmarturia

Leave a Reply

Your email address will not be published.