Minggu Palmarum

MENYEMBAH TUHAN YANG KUDUS

Ep. Mazmur 99:1-5

Seorang raja yang berkuasa sering menganggap dirinya setara dengan dewa meresa tidak pernah berbuat salah. Raja yang memerintah dan sangat ditakuti rakyat. Menyatakan bahwa dirinya adalah hukum. Tetapi konsep ini tidak berlaku kepada bangsa Israel. Sebab bangsa Israel memiliki Allah, Sang Raja sejati. Ia bukan manusia yang memuja diri sendiri. Ia adalah Allah yang mulia yang mengungkapkan karakterNya yang murni dalam hukum yang tak bercela. Tak ada penyelewengan kuasa dalam diriNya, tak ada “niat” menindas umat dalam diriNya. Kebesaran, kedahsyatan, kedaulatan, dan semua sifat Allah yang disoroti sebelumnya dan juga di sini, kini dinyatakan dengan tegas: “Kuduslah Ia!” (Ayat 3, 5 dan 9).

Penegasan tentang kekudusan Allah ini dinyatakan dalam tiga hal. Pertama, Allah adalah Raja yang besar, agung, dan misteriNya ada di luar jangkauan manusia (Ayat 1-3). Kedua, Allah adalah Raja yang kuat, mencintai hukum, melakukan keadilan, menegakkan kebenaran (Ayat 6-9). Ketiga, Allah adalah Raja yang menjawab umat-Nya dengan anugerah dan tuntutan ketaatan (Ayat 6-9).

Meskipun kedaulatan Allah bersifat universal, namun kedau-latan itu mulai dari pusatnya, yaitu di tengah umat Allah. Ini dinyatakan dengan menyebut “Sion’ dan “kerub-kerub” (menunjuk pada tabut perjanjian yang di atasnya dibuat patung kerub). Kekudusan Allah dinyatakan dan dipancarkan ke seisi dunia mulai dari umatNya sendiri. Kekudusan Allah itu menjelaskan kebesaran Allah sebagai hal mencintai hukum dan menegakkan keadilan (Ayat 4-5). Allah telah menuntaskan pekerjaan keselamatanNya untuk kita. Sekarang tugas kita memperjuangkan ditegakkannya kembali keadilan dan kebena-ranNya. Berjuanglah dalam FirmanNya!

Doa: Tuhan, ajar kami menyembahMu, karena Engkau adalah Tuhan yang menegakkan keadilan dan kebenaran, serta sumber dari segala kasih karunia. Amin. (TS)

MENYEMBAH YESUS JURUSELAMAT

Ev. Wahyu 19: 6-10

Kedatangan Sang Raja Mesias ke dua kali, digambarkan sebagai pengantin pria yang datang menjemput sang pengantin wanita. Kedatangannya membenarkan orang-orang kudus yang telah bertahan dan setia, serta menegaskan hubungan antara Allah dengan umatNya. Allah yang mahakuasa telah berkuasa sebagai Raja. Karena itu penganten bersukacita dan bersorak-sorai. Perkawinan Sang Anak Domba menandakan persatuan antara Allah dan umatnya. Ini yang memperlihatkan bahwa semua umat bergembira karena persatuan antara Kristus dengan umatNya, mereka bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Allah.

Jubah putih yang dikenakan menunjukkan bahwa mereka adalah umat yang telah bertahan, setia, dan terus bersaksi seperti nabi yang memberitakan kebenaran Allah selama hidup di dunia. Tetapi, terutama pada nats ini, pakaian putih ini juga menunjuk pada anugerah yang dikaruniakan Allah kepada mereka, yang memampukan mereka melakukan perbuatan baik. Sekali lagi, pengakuan Kristen sejati bahwa Kristus adalah raja mereka tidaklah hanya di bibir saja.

Perbuatan-perbuatan orang-orang Kristen sangat penting sebagai ungkapan pengakuan bahwa ”Yesus adalah Raja, kini dan selamanya”, tidak cukup hanya pengkuan di bibir atau mulut saja. Kita mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan, dan kita tunjukkan dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa: Pertama, kita percaya hanya kepada Yesus dan mengandalkan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak percaya dan mengandalkan kuasa dunia yang penuh kegelapan ini. Kedua, kita tetap setia menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, betapapun beratnya pergumulan yang kita hadapi. Ketiga, kita aktif memberitakan berita keselamatan itu kepada orang lain.

Doa: Tuhan Yesus, ajar kami untuk tetap setia menyembahMu
dan menantikan kedatanganMu yang kedua kalinya
menjemput kami oran-orang percaya. Amin. (TS)