BERZIARAH DAN BERIBADAH 

Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah Tuhan.” (Mazmur 122:1)

Mrk. 14:1-10                                 BE. 361: 2                           Zef. 3:16-18

             Ziarah adalah salah satu praktik keagamaan yang memiliki makna moral yang penting yaitu untuk mengingat, meneguhkan iman atau menyucikan diri. Nyanyian Ziarah adalah Pujian kepada Tuhan sebagai ungkapan tertinggi kepenuhan rohani pribadi maupun bersama-sama dalam persekutuan.

Pada Bani Israel Nyanyian Ziarah adalah sebutan untuk nyanyian para imam ketika mereka menapaki 15 tangga naik untuk melayani di rumah Tuhan. Kidung mazmur Bani Israel juga dinyanyikan saat mendaki ke Yerusalem dari berbagai tempat untuk berziarah dan beribadah pada tiga Hari Raya Agung: (i) Roti tak Beragi/Paskah, (ii) Tujuh Minggu/Hasil Pertama/Pentakosta, (iii) Pondok Daun/Syukur atas Panen/Tabernakel, sesuai Taurat Ulangan  16:16. Maka Ziarah Bani Israel ialah perjalanan rohani ke Yerusalem sebagai sumber dan pusat persekutuan bangsa pilihan yang diikat janji Tuhan. Nyanyian ziarah pada akhir perjalanan menandakan Bani Israel, umat yang terpilih, menyatu dengan rencana Tuhan.

Menaati dan mengasihi Tuhan di atas segalanya adalah dasar iman percaya Daud–sumber keberanian menanggung derita dan tuntunan hidup. Maka ziarah bukan sekedar perjalan ritual akan tetapi perjalanan hidup bersama Tuhan, mengalami kasih, ampunan serta dilayakkan. Nyanyian ziarah bukan sekedar kebanggaan umat pilihan, tapi ungkapan sukacita dilayakkan masuk ke rumah Tuhan, memuji dan memuliakan Sang Pencipta dan mensyukuri pengalaman hidup bersamaNya. Berziarah dan beribadah  ialah menapaki hidup bersama Tuhan menuju ke rumahNya dan dilayakkan memuliakan Dia.

Doa:       Tuhan, tuntun aku dan seisi rumahku tekun menapaki ziarah hidup denganMu dan layakkan kami  beribadah di rumahMu,  memuji dan memuliakanMu. Amin. (PDFS)