PANDANGLAH ALLAH YANG KUDUS

Pada waktu itu manusia akan memandang kepada Dia yang menjadikannya, dan matanya akan melihat kepada Yang Mahakudus, Allah Israel (Yesaya 17:7)

Luk. 11:9-13                                  BE. 288:1-2                         Yer. 26:1-6

              Seorang ibu bercerita tentang suaminya yang telah lama sekali tidak pernah mau ke gereja pada hari Minggu. Suaminya berang-gapan bahwa ibadah itu hanya menghabiskan waktu yang tidak ada artinya dan juga menghabiskan uang lewat persembahan. Ia lebih memilih pergi ke kebunnya pada hari Minggu ketimbang pergi ke gereja. Ajakan si ibu selalu direspon dengan amarah.

Walau demikian, sang ibu tekun mendoakan si suami, sampai satu saat dia sadar bahwa uang tidak selalu dapat membuatnya bahagia, tidak dapat memberikan kepuasan dan sukacita baginya. Hidup tidak tenang dan sering marah-marah. Sejarah kehidupan bangsa Israel membuktikan hal itu. Karena mereka sering mening-galkan Allah, mereka di buang ke Babel dan mengalami penderitaan. Itu sebabnya Yesaya dalam nats ini menyerukan supaya mereka memandang Allah sumber dari segala kebahagiaan.

Demikian di antara keluarga kita masing-masing, tidak selalu semua anggota keluarga rajin beribadah dan mengikuti persekutuan orang-orang percaya. Seorang atau lebih anggota keluarga yang sudah terpanggil sebagai anak Tuhan, harus tekun mendoakan anggota keluarga yang lain, suami atau istri, anak-anak atau bahkan orangtua, supaya Roh Kudus menggerakkan hati mereka memandang kepada Yesus yang disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita. Hanya di dalam Dia-lah kita menemukan kepenuhan kebahagiaan selama hidup di dunia ini dan dalam hidup kekal bersama Dia di Sorga. Allah selalu setia menantikan kehadiran umatNya berbalik kepadaNya.

Doa:       Tuhan, Engkau adalah Allah yang Kudus. Ajar kami untuk saling mendoakan supaya semua seisi rumah kami memandang kepadaMu. Amin. (LHMS)