Minggu Yudika

YESUS TELADAN HIDUPKU

Ep.  1 Petrus 2: 21-25

Jika seseorang mentertawakan dan melecehkan kita karena mengaku bahwa Yesus itu adalah Tuhan dan Juruselamat, maka sebagai orang Kristen kita akan marah dan mungkin akan membalasnya dengan caci maki. Dengan menunjukkan kemarahan dan perlawanan terhadap orang yang melecehkan Tuhan kita Yesus Kristus, mungkin kita merasa puas karena telah melakukan pembelaan bagi Yesus yang kita sembah. Padahal, Yesus tidak memerlukan pembelaan kita. Menunjukkan kemarahan justru tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Kristen. Melalui penderitaan Yesus di kayu salib, justru kita diajarkan kesabaran, rendah hati dan penguasaan diri sebagaimana teladan yang telah diberikan oleh Yesus: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya” (1Petrus 2:21).

Ketika orang menganiaya, mencacimaki bahkan meludahi Yesus, Dia justru tidak membalasnya sedikitpun, bahkan Yesus berkata: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” (Roma 12:14). Yesus sendiri berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalh berkat bagi orang yang mengutuk kamu” (Luk. 6: 27-28).

Allah ingin agar kita meneladani Kristus, dan kita pun diminta agar menjadi teladan bagi orang lain, kapanpun dan dimanapun kita berada. Yesus sendiri mengatakan: “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15). Hidup ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan. Marilah kita meneladani Kristus dalam hidup ini, agar kita menjadi teladan bagi orang lain.

 Doa:       Tuhan, ajar kami meneladaniMu menjadi pembawa damai, mau berkorban untuk keselamatan orang lain, dan membalas kejahatan dengn kebaikan. Amin. (DEL)

 BERHARAP HANYA KEPADA ALLAH

Ev.   Mazmur 43:1-5

            Jika peristiwa pahit terjadi dalam hidup ini, masihkah kita tetap menaruh pengharapan kepada Allah? Apa arti “Berharap kepada Allah”. Apakah pengharapan bisa hilang ketika menghadapi kekecewaan? Hal-hal apa yang dapat membuat pengharapan kepada Allah menjadi hilang sehingga kita lupa bersyukur kepadaNya? Apa yang harus kita lakukan agar kita mampu bersyukur, karena pertolonganNya itu belum nyata bagi kita? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu kita renungkan agar iman kita tetap bertumbuh dalam pengha-rapan akan kasih Allah.

Mungkin kita pernah mengalami ketidak-adilan, kecurangan dan penipuan seperti yang dialami pemazmur. Menghadapi situasi berat seperti ini, tentu membuat iman kita goyah, meskipun kita tahu bahwa Allah adalah tempat  menemukan keamanan dan ketenangan, tetapi mungkin tetap saja muncul perasaan “Mengapa Engkau membuang aku?”  Seharusnya, kita yakin bahwa Allah adalah sumber sukacita yang mampu mengirimkan terang dan kesetiaanNya untuk menuntun kita, agar tetap sanggup bersyukur dalam situasi apapun.

Pemazmur tahu keadaan jiwanya. Dia masih gelisah, walau dia telah meyakinkan dirinya dan memohon agar Allah menuntunnya. Jawabnya: “Berharaplah kepada Allah,” artinya: sabar menanti, tetap bertahan, tetap percaya meskipun terluka oleh penderitaan. Allah tidak menutup mata terhadap apapun yang kita alami, Dia tidak berdiam diri tanpa tindakan penyelamatan. Allah memastikan bahwa bersama Dia, kita sanggup untuk selalu “bersyukur  kepadaNya, kepada Allah yang telah menolong kita.” Berserahlah kepada Tuhan. FirmanNya berkata: Ia takkan membiarkan kakimu goyah; Penjagamu tidak akan terlelap; tidak tertidur penjaga Israel (Maz. 121: 3-4)

Doa:       Tuhan, hanya Engkau pengharapanku, hanya Engkau yang sanggup menolongku. Aku percaya, bersamaMu aku akan selamat dan sanggup selalu bersyukur. Amin. (DEL