Minggu Letare

ALLAH MENGASIHI KITA

Ep.   Yesaya 54:11-17

           Kata kasih sangat banyak dalam Alkitab. Kenapa? Karena Allah itu Allah  kasih bahkan Allah Mahakasih. KasihNya sangat   luar  biasa. Dia telah mengasihi umatNya dalam kasih setia (bnd. Yer. 31:20; Yes. 30:18). Kalau demikian, kenapa umatNya (Israel) dihukum Allah dengan terbuang ke Babel? Mereka tertindas dan menderita di sana. Apakah Allah itu telah melupakan kasihNya? Tentu tidak. Allah tetap mengasihi umatNya. FirmanNya berkata: ”Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setiaKu tidak akan beranjak dari padaMu” (Yes. 54:10).

Di balik hukuman Allah ada pengharapan, pengampunan, pemulihan dan  keselamatan. Yang penting umat harus mengakui dosa-dosanya dan bertobat. Pengharapan mereka akan kembali ke Yerusalem pasti akan menjadi realitas dan sejarah Israel telah membuktikannya. Apalagi bukti Allah mengasihi umatNya? Dalam nats jelas dinyatakan bahwa penindasan mereka akan berakhir. Anak-anak mereka akan menjadi murid Tuhan. Mereka akan menikmati hidup damai sejahtera. Mereka akan hidup dalam keadilan dan kebenaran. Musuh-musuh mereka akan dikalahkan. Dengan kata lain, hidup mereka akan dijaga,  disertai, dipelihara, dan diperhatikan Allah.

Apakah kasih Allah hanya pada umatNya pada masa Perjanjian Lama? Tidak. Allah tidak pernah berubah, dulu, sekarang, dan pada masa yang akan datang. Allah sangat mengasihi kita. Puncak kasihNya ialah, Dia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal (Yesus Kristus) supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Yesus dengan kasihNya yang luarbiasa rela menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita, dan agar kita memperoleh keselamatan. Tetapi ingat, untuk itu kita harus bertobat, kembali ke jalan Tuhan.

Doa.       Ya Allah kami! Kami mengucap syukur kepadaMu karena Engkau tetap mengasihi kami. Amin. (WM)

 

HIDUP YANG SALING MENGASIHI

Ev.  Yohanes 15:9-17

Hukum kasih sudah ada sejak Perjanjian Lama. Mengasihi Allah ”kasih vertikal” (Ul. 6:5) dan mengasihi sesama manusia ”kasih horizontal” (Im. 19:18). Hukum ini merupakan perintah Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun manusia itu cenderung menggunakan hukum pembalasan, nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi (Ul. 19:21). Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengadopsi hukum kasih yang di Perjanjian Lama untuk dilaksanakan (Luk. 10:27), tentu dengan pemahaman yang lebih jelas.

Permasalahannya, siapakah sesama manusia itu? Pada umumnya sesama manusia itu dipahami dalam tiga kategori; 1) keluarga, 2) status sosial setara, dan 3) bukan musuh. Bisa saja seseorang anggota keluarga tetapi bukan sesama karena status sosial yang berbeda atau dia adalah musuh. Yesus menjelaskan sesama manusia itu secara tegas. Tidak ada batas-batas yang menjadi kategori siapa sesama manusia. Kasih kepada sesama manusia adalah kasih yang radikal. Semua orang adalah sesama manusia. Bahkan Yesus menyatakan, kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat. 5:44). Kasih yang bersedia dengan sukarela memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya (Yoh. 15:13). Kasih yang tidak memandang agama, bangsa, dan perbedaan-perbedaan lainnya seperti cerita ”Orang Samaria yang murah hati itu.”

Apakah kita mengasihi sesama manusia seperti yang diajarkan Yesus? Mengasihi sesama manusia harus dibuktikan dalam perbuatan. Mengasihi sesama manusia itu harus dengan tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih. Tidak tergantung situasi dan kondisi tetapi terus-menerus. Tidak menunggu orang lain lebih dulu mengasihi kita. Marilah berlomba-lomba mengasihi sesama manusia. Dengan demikian hidup kita telah menjadi hidup yang saling mengasihi.

 Doa:       Ya Allah! Ajarilah kami, agar kami mau dan mampu mengasihi sesama kami manusia. Amin. (WM)